Selasa, 15 Sep 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Daerah
Daerah

18 Orangutan Terdampak Karhutla, Tiga Terbaru Diselamatkan di Kayong Utara

✍️ Eko Pranoto 🕒 15 Sep 2026 👁️ 2x dibaca
18 Orangutan Terdampak Karhutla, Tiga Terbaru Diselamatkan di Kayong Utara
18 Orangutan Terdampak Karhutla, Tiga Terbaru Diselamatkan di Kayong Utara Foto: BKSDA Kalbar & YIARI

RAKYAT KAYONG – Ancaman kebakaran hutan dan lahan terhadap satwa liar di Kabupaten Kayong Utara kembali terlihat. Tiga orangutan diselamatkan dari lokasi terdampak karhutla pada Sabtu (12/9/2026).

Dua orangutan ditemukan di Desa Penjalaan dan satu lainnya berada di Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir. Di Penjalaan, tim menemukan seekor induk bersama anaknya di kebun sawit milik warga transmigrasi.

Keduanya kemudian diberi nama Mama Penja dan Penja.

Penyelamatan dilakukan Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI. Proses tersebut turut didukung Yayasan Palung, LPHD Penjalaan, LPHD Padu Banjar dan masyarakat setempat.

Kondisi Mama Penja dan Penja saat ditemukan membuat tim langsung melakukan penanganan medis. Dr. Karmele Llano Sanchez, dokter hewan satwa liar sekaligus Direktur Utama YIARI, mengatakan kedua orangutan itu terlihat sangat lemas.

“Saat kami tiba di lokasi, kami melihat induk orangutan dan anaknya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Keduanya terlihat sangat kurus dan lemas, dan hampir tidak bergerak dari sarangnya, meskipun banyak orang berada di sekitar mereka,” ujarnya.

Setelah dibius dengan blow dart, keduanya mendapat pertolongan berupa infus dan oksigen. Tim selanjutnya membawa Mama Penja dan Penja ke Pusat Rehabilitasi YIARI untuk pemeriksaan dan perawatan.

Hasil pemeriksaan menunjukkan Mama Penja mengalami dehidrasi berat dan anemia. Kedua kakinya juga mengalami luka bakar yang membuat kulit terkelupas. Luka itu diduga muncul setelah ia berjalan di atas tanah gambut yang terbakar.

Sementara pada bagian gigi, ditemukan banyak pengikisan yang diduga berkaitan dengan terbatasnya sumber pakan selama kebakaran.

Karmele memperkirakan Mama Penja telah mengalami kekurangan makanan dalam waktu yang tidak sebentar.

“Kami menduga kondisi kekurangan makanan yang berkepanjangan, kemungkinan selama berminggu-minggu sejak kebakaran mulai di areanya pada dua bulan lalu, yang telah menyebabkan kondisi tubuhnya semakin memburuk hingga mengalami anemia berat,” katanya.

Tim medis kini fokus menstabilkan kondisi Mama Penja, memberikan nutrisi dan melakukan perawatan intensif terhadap induk dan anak tersebut.

Di Desa Padu Banjar, penyelamatan dilakukan setelah tim menerima laporan dari masyarakat. Orangutan jantan dewasa yang ditemukan di sana berhasil dievakuasi menggunakan senapan bius.

Satwa tersebut diketahui bernama Kumbang setelah tim menemukan microchip di tubuhnya. Berdasarkan data identifikasi, Kumbang ternyata pernah dievakuasi dari kawasan hutan yang sama pada 2022.

Direktur Operasional Program YIARI Argitoe Ranting mengatakan kebakaran yang meluas diduga membuat Kumbang kembali keluar dari habitatnya.

“Karena kebakaran yang meluas, mendorong orangutan ini masuk di wilayah kampung dan di kebun masyarakat,” jelasnya.

Kumbang juga ditemukan dalam kondisi yang membutuhkan perhatian. Pemeriksaan menunjukkan adanya suara abnormal di paru-paru kanan. Warga sebelumnya melaporkan sempat mendengar orangutan tersebut batuk.

Paparan asap karhutla diduga berhubungan dengan gangguan pernapasan itu. Saat proses evakuasi berlangsung, kebun tempat Kumbang ditemukan juga masih diselimuti kabut asap cukup tebal.

Sejumlah luka turut ditemukan pada tubuh Kumbang. Tim melihat luka panjang di punggung kanan, beberapa bekas luka di kaki, serta luka yang diduga merupakan bekas abses atau cedera akibat proyektil.

Benda asing yang diduga peluru juga ditemukan tertanam di tangan kanan, sementara bekas jerat turut terlihat pada tubuhnya.

Menurut Argitoe, kondisi ketiga orangutan tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla terhadap satwa liar tidak lagi sebatas ancaman di habitat, tetapi sudah terlihat langsung di lapangan.

“Evakuasi ini menjadi semakin mendesak karena dampak karhutla terhadap satwa liar sudah mulai terlihat secara langsung,” katanya.

Saat ini ketiga orangutan menjalani pemantauan di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI. Tim medis akan melakukan pemeriksaan lanjutan sebelum menentukan langkah penanganan berikutnya.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengatakan penyelamatan bermula dari informasi warga yang diterima sekitar dua hari sebelum evakuasi.

“Penyelamatan ketiga orangutan ini kami laksanakan berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar dua hari sebelumnya. Saat ini mereka menjalani perawatan di pusat penyelamatan orangutan YIARI di Ketapang,” ujarnya.

Murlan berharap ketiga satwa tersebut dapat pulih sehingga bisa kembali dilepasliarkan di habitat yang aman. Ia menyebut total sudah 18 individu orangutan yang diselamatkan akibat terdampak karhutla.

BKSDA Kalimantan Barat mengajak masyarakat segera melapor jika menemukan satwa yang terdampak kebakaran melalui call center 0811-5670-041 atau 0811-5776-767.

Ketua Umum YIARI Silverius Oscar Unggul mengatakan kondisi habitat yang terbakar dapat membuat orangutan terpaksa mencari wilayah baru yang belum tentu aman.

“Temuan ini menunjukkan bahwa ketika habitat terbakar dan akses orangutan terhadap kawasan hutan semakin terbatas, mereka dapat terdorong masuk ke lanskap yang berisiko bagi keselamatan dan kesehatannya,” ujarnya.

EP
Eko PranotoEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update