Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Banser Tempuh 20 Kilometer Pikul Pompa Padamkan Karhutla di Kalbar

✍️ Rina Marlina 🕒 31 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Personel Satkorcab Banser Kabupaten Bengkayang berupaya padamkan api di Desa Sinar Tebudak, Kecamatan Tujuh Belas, Kabupaten Bengkayang, Kalbar, Sabtu (10/10/2026)  Sumber: https://www.nu.or.id/nasional/perjuangan-banser-kalbar-tempuh-20-kilometer-pikul-pompa-padamkan-karhutla-BvsgR   ___ Download NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap! https://nu.or.id/superapp (Android/iOS)
Personel Satkorcab Banser Kabupaten Bengkayang berupaya padamkan api di Desa Sinar Tebudak, Kecamatan Tujuh Belas, Kabupaten Bengkayang, Kalbar, Sabtu (10/10/2026) Sumber: https://www.nu.or.id/nasional/perjuangan-banser-kalbar-tempuh-20-kilometer-pikul-pompa-padamkan-karhutla-BvsgR ___ Download NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap! https://nu.or.id/superapp (Android/iOS) Foto: istimewa

rakyatkayong.com – Keterbatasan peralatan dan sulitnya mendapatkan sumber air menjadi tantangan bagi relawan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) bahkan harus berjalan kaki hingga 15–20 kilometer sambil memikul mesin pompa dan selang untuk menjangkau lokasi kebakaran.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas lahan terbakar di Kalimantan Barat mencapai sekitar 2.500 hektare dengan 201 titik api hingga Jumat (30/10/2026) pukul 09.30 WIB.

Kepala Satuan Koordinasi Wilayah (Kasatkorwil) Banser Kalbar, Muhammad Hasin, mengatakan personel Banser setiap hari diterjunkan untuk membantu penanganan karhutla di sejumlah wilayah.

Di Kabupaten Kubu Raya, sekitar 15 anggota bertugas di beberapa titik. Sementara itu, sekitar 10 personel lainnya dikerahkan ke Desa Sungai Malaya dan Mika Timur.

“Anggota kami itu memang agak terbatas, karena anggota yang turun hanya ada beberapa yang bergabung dengan TNI, Polri, kemudian dengan Pemda,” ujar Hasin kepada NU Online, Kamis (29/10/2026).

Wilayah penanganan Banser mencakup sejumlah kecamatan di Kubu Raya, seperti Sungai Raya, Rasau Jaya, dan Sungai Ambawang. Personel juga menjangkau Kabupaten Mempawah, Ketapang, Melawi, dan Bengkayang.

Karhutla Masih Terjadi di Ketapang dan Kayong Utara

Hasin menjelaskan, kebakaran di sekitar Kota Pontianak mulai berkurang setelah hujan turun. Namun, kondisi berbeda masih terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Ketapang dan Kayong Utara yang belum mendapatkan curah hujan secara merata.

“Kebakaran yang di daerah Ketapang dengan di Kayong Utara itu jauh dari pemukiman warga,” katanya.

Meski sebagian wilayah mulai diguyur hujan, dampak kabut asap masih dirasakan masyarakat. Menurut Hasin, kondisi tersebut telah berlangsung sejak Agustus hingga Oktober 2026, terutama di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah.

Ia menyebut kabut asap masih cukup pekat sehingga mengganggu jarak pandang masyarakat.

Keterbatasan Peralatan dan Sumber Air

Selain jumlah personel yang terbatas, Banser menghadapi kendala berupa minimnya peralatan pemadam, sulitnya memperoleh air, serta kurangnya perlengkapan pelindung pernapasan.

Hasin mengungkapkan, anggota di lapangan harus membawa mesin pompa dan selang dengan berjalan kaki hingga belasan kilometer untuk mencapai titik kebakaran.

“Minimnya alat pemadam, seperti yang mencukupi air, peralatan kaya masker yang anti asap itu, bahkan anggota kami ada yang berjalan kaki 15 sampai 20 kilo sambil memikul pompa dan selang berat,” ucapnya.

Penanganan kebakaran juga semakin sulit ketika api merambat ke kawasan gambut. Menurut Hasin, penyiraman pada permukaan tanah belum tentu membuat api benar-benar padam karena bara masih dapat bertahan di lapisan bawah.

“Jadi meskipun kita itu semprot dengan air, itu nggak serta-merta mati. Di bawahnya itu masih hidup kalau sudah kena ke tanah gambut itu,” jelasnya.

Jarak sumber air yang jauh dan kondisi persediaan air yang mengering turut menghambat proses pemadaman. Dalam situasi tersebut, anggota Banser bersama warga terpaksa memanfaatkan peralatan sederhana, seperti ranting kayu, untuk membantu mengendalikan api.

Hasin mencontohkan kebakaran di kampungnya yang diperkirakan mencapai hampir 10 hektare. Upaya pemadaman telah dilakukan warga bersama petugas, tetapi keterbatasan air membuat penanganan tidak dapat berjalan maksimal.

“Ya enggak bisa berbuat banyak, karena airnya memang nggak ada yang mau disedot, yang mau disiram pakai air itu nggak ada. Makanya yang jalan satu-satunya ya pakai ranting,” katanya.

Relawan Hadapi Paparan Asap Tanpa Masker Khusus

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah perlindungan kesehatan para relawan. Hasin mengatakan anggota Banser yang bertugas di lapangan belum mendapatkan masker khusus untuk membantu melindungi pernapasan dari paparan asap kebakaran.

Selama menjalankan tugas, sebagian anggota hanya menggunakan masker biasa.

“Selama anggota kami turun ke lapangan itu hanya memakai masker biasa, tidak ada masker khusus yang seperti pelindung asap, tidak ada juga yang tidak pakai masker. Itu tantangan terburuk bagi kami,” ungkapnya.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan tambahan personel dan peralatan pemadam, tetapi juga dukungan perlengkapan keselamatan bagi relawan.

Di tengah kebakaran yang masih terjadi di sejumlah daerah Kalimantan Barat, ketersediaan air, akses menuju titik api, serta perlindungan bagi petugas menjadi bagian penting dalam upaya penanggulangan karhutla.

RM
Rina MarlinaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update