Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Ancaman Karhutla di Kayong Utara, Gambut Kering, Api Mudah Menjalar

✍️ Eko Pranoto 🕒 16 Sep 2026 👁️ 40x dibaca
Petugas Memadamkan Kebakaran Lahan Gambut
Petugas Memadamkan Kebakaran Lahan Gambut Foto: Mongabay.co.id

RAKYAT KAYONG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut tidak hanya soal api yang muncul saat musim kemarau. Kondisi ekosistem sebelum kebakaran terjadi ikut menentukan seberapa besar ancaman yang dihadapi.

Di Kabupaten Kayong Utara, kondisi tersebut menjadi sorotan Link-AR Borneo. Lembaga swadaya masyarakat ini menilai pembukaan lahan dan kanalisasi telah membuat sebagian kawasan gambut semakin rentan kehilangan air dan terbakar.

Direktur Eksekutif Link-AR Borneo Ahmad Syukri mengatakan salah satu korporasi yang menjadi perhatian adalah PT Mayawana Prasada sebagai pemegang izin Hutan Tanaman Industri (HTI).

Menurut Ahmad, persoalan kerusakan gambut tidak dapat hanya dilihat dari aktivitas perusahaan. Pemerintah sebagai pemberi izin juga dinilai mempunyai tanggung jawab dalam memastikan kawasan tetap dikelola sesuai kondisi ekologisnya.

“Protes ini sebenarnya sudah lama kita layangkan, baik ke perusahaan maupun ke pemerintah. Ada dua pihak yang mesti bertanggung jawab terhadap kerusakan ekosistem gambut di Kayong Utara, yaitu pemilik izin, PT Mayawana Prasada, dan pemberi izin, dalam hal ini pemerintah,” ujar Ahmad Syukri.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Profesor Dwi Astiani menjelaskan bagaimana kondisi alami gambut sebenarnya membantu mencegah kebakaran.

Menurut dia, gambut yang masih terjaga menyimpan air dalam jumlah besar. Permukaan airnya pun berada cukup dekat dengan permukaan tanah.

“Kalau kawasan gambut masih asli, tinggi airnya hampir mendekati permukaan. Jadi dia selalu basah,” kata Profesor Dwi Astiani.

Namun, ketika kanal dibangun tanpa pengaturan tata air yang memadai, kondisi tersebut dapat berubah. Air akan terus mengalir keluar sehingga permukaan air gambut turun.

“Kalau dibangun kanal tapi tidak dibangun (pengatur air-red), lama-kelamaan airnya akan turun sampai sedalam paritnya,” jelasnya.

Gambut yang mengering kemudian menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar. Bahkan sumber api yang relatif kecil dapat memicu kebakaran.

“Orang menyulut api sedikit saja itu bahan bakar yang paling potensial,” ujarnya.

Yang membuat kebakaran gambut semakin sulit ditangani adalah api dapat merambat ke lapisan bawah tanah. Api tidak selalu terlihat dari permukaan, tetapi terus membakar material organik yang ada di dalam gambut.

Dwi mengatakan kebakaran dapat menciptakan kondisi yang membuat gambut di sekelilingnya semakin kering dan akhirnya memperluas area terdampak.

“Kalau sudah apinya mulai menyala, dia mulai memanaskan sekitarnya, kering gambutnya dan seterusnya menjadi besar apinya, mengeringkan sekelilingnya. Lama-lama enggak bisa kita kendalikan,” katanya.

Karena itu, menurut Dwi, pengelolaan air menjadi salah satu kunci untuk mengurangi risiko kebakaran.

“Jadi dipasang penahan air sehingga dia tidak mengering airnya,” ujarnya.

Persoalannya, ketika gambut sudah rusak atau terbakar, proses pemulihannya tidak bisa berlangsung cepat. Gambut terbentuk secara alami dengan kecepatan hanya sekitar 2 hingga 3 milimeter per tahun.

Sebaliknya, kebakaran bisa menghilangkan lapisan gambut dalam hitungan menit.

“Kita bayangkan dalam kebakaran satu menit, sepuluh menit sudah 15 sentimeter hilang,” katanya.

Ekosistem gambut di Kalimantan Barat sendiri terbentuk dalam rentang waktu ribuan tahun. Usianya diperkirakan mencapai 5.000 sampai 10.000 tahun.

“Untuk gambut kembali itu sepertinya memerlukan waktu yang sangat-sangat lama, berabad-abad,” ujarnya.

Kerusakan kawasan gambut tidak berhenti pada hilangnya lapisan gambut akibat api. Fungsi kawasan sebagai tempat menyimpan air juga ikut terganggu.

Dalam kondisi sehat, gambut mampu menyerap dan menahan air hujan. Ketika mengalami kerusakan, kemampuan tersebut menurun sehingga air lebih mudah mengalir ke wilayah hilir.

Dwi pun mengingatkan agar pengelolaan kawasan gambut dilakukan dengan mempertimbangkan karakter ekologisnya.

“Semua harus pintar dalam mengelola gambut,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa menjaga tata air dan kelembapan gambut menjadi bagian penting dalam upaya mencegah kebakaran, terutama ketika memasuki periode kemarau.

EP
Eko PranotoEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update