BlackBerry Tinggalkan Ponsel, QNX Kini Digunakan di 275 Juta Kendaraan
rakyatkayong.com – BlackBerry memperkuat bisnis perangkat lunak melalui platform QNX yang digunakan pada kendaraan dan robot. Setelah meninggalkan pengembangan perangkat keras ponsel sendiri, perusahaan asal Kanada tersebut kini mengandalkan teknologi untuk otomotif, robotika, perangkat medis, hingga sistem pemerintahan.
Berdasarkan laporan Tekno Kompas.com, sistem operasi QNX telah digunakan di lebih dari 275 juta kendaraan. Nilai royalti yang terikat dalam kontrak juga melampaui 1,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp21,6 triliun.
CEO BlackBerry, John Giamatteo, mengatakan produk perusahaan kini menjangkau berbagai sektor dan tidak lagi bergantung pada perangkat yang digunakan secara langsung oleh konsumen.
"Produk yang kami jual saat ini tidak bisa digenggam di telapak tangan, tetapi produk itu ada di mana-mana di sekitar kita," kata Giamatteo dalam wawancara dengan program televisi Mad Money, Senin (26/10/2026).
Perubahan tersebut menandai pergeseran strategi BlackBerry sejak September 2016, ketika perusahaan memutuskan menghentikan pengembangan perangkat keras sendiri dan memusatkan bisnis pada perangkat lunak.
Sebelumnya, BlackBerry dikenal luas melalui ponsel dengan papan ketik fisik dan layanan komunikasi khasnya. Data GfK bahkan mencatat pangsa pasar ponsel BlackBerry di Indonesia masih mencapai sekitar 51 persen hingga Desember 2011.
QNX Jadi Andalan Bisnis Otomotif
Salah satu pendorong utama pertumbuhan BlackBerry saat ini adalah QNX, platform perangkat lunak yang digunakan dalam sistem komputasi kendaraan.
Giamatteo menyebut terdapat tiga faktor yang mendukung perkembangan bisnis tersebut, yakni peralihan produsen kendaraan menuju sistem komputasi yang lebih canggih, perluasan portofolio perangkat lunak, serta meningkatnya kebutuhan terhadap kecerdasan buatan fisik atau physical AI.
Teknologi physical AI memungkinkan sistem kecerdasan buatan berinteraksi dengan dunia nyata melalui perangkat seperti robot dan kendaraan swakemudi.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, BlackBerry mengembangkan Alloy Kore, produk yang menggabungkan sistem operasi dengan perangkat lunak perantara atau middleware.
Kontrak pertama Alloy Kore diperoleh dari Coretura, perusahaan patungan Volvo Group dan Daimler Truck. Kesepakatan tersebut menambah lebih dari 100 juta dolar AS atau sekitar Rp1,8 triliun ke nilai kontrak masa depan QNX.
Nilai royalti QNX yang telah terikat kontrak meningkat dari sekitar 950 juta dolar AS pada akhir tahun fiskal Februari 2026 menjadi lebih dari 1,2 miliar dolar AS. Angka ini merupakan nilai royalti berdasarkan kontrak yang belum diterima perusahaan, bukan pendapatan yang seluruhnya sudah terealisasi.
Ekspansi ke Robotika dan AI
Selain otomotif, BlackBerry memperluas penggunaan QNX di sektor robotika. Perusahaan tidak membuat robot sendiri, melainkan menyediakan perangkat lunak yang mendukung kebutuhan keselamatan sistem robot.
Teknologi tersebut digunakan atau ditujukan untuk berbagai aplikasi, termasuk robot gudang, forklift tanpa operator, dan mesin pemindah palet.
Nvidia juga telah menetapkan QNX sebagai standar untuk Halos Safety Stack, rangkaian teknologi keselamatan robot yang dikembangkannya.
Giamatteo menilai kemitraan dengan Nvidia membuka peluang bagi BlackBerry untuk menjangkau pasar baru, termasuk pengembangan robot humanoid, robot bedah, dan drone.
Dalam paparan kinerja pada September 2026, ia menyebut lebih dari 20 perusahaan sedang menjajaki platform berbasis Nvidia bersama BlackBerry.
Meski demikian, sektor di luar otomotif, termasuk robotika, saat ini menyumbang sekitar 20 persen dari pendapatan QNX. BlackBerry belum mengungkapkan secara terperinci kontribusi robotika terhadap nilai royalti kontrak yang telah dibukukan.
Pendapatan BlackBerry Tumbuh 26 Persen
Perkembangan bisnis perangkat lunak turut tercermin dalam kinerja keuangan BlackBerry. Pada kuartal yang berakhir 31 Agustus 2026, perusahaan membukukan pendapatan sebesar 163,3 juta dolar AS atau sekitar Rp2,94 triliun, meningkat 26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan QNX tumbuh 27 persen menjadi 80,3 juta dolar AS atau sekitar Rp1,45 triliun. Segmen tersebut juga mencatat margin kotor sebesar 87 persen.
"QNX mencatat kinerja rekor pada kuartal ini, didorong kekuatan bisnis otomotif inti kami," kata Giamatteo dalam rilis kinerja perusahaan.
Di tengah pertumbuhan bisnis tersebut, nilai pasar BlackBerry tercatat sekitar 5,4 miliar dolar AS atau Rp97,2 triliun, masih jauh di bawah puncaknya pada 2008 yang hampir mencapai 85 miliar dolar AS atau Rp1.530 triliun.
Meski demikian, harga saham perusahaan dilaporkan meningkat 142 persen dibandingkan awal 2026.
Perkembangan QNX menunjukkan bagaimana BlackBerry mengalihkan fokus bisnis dari ponsel ke teknologi yang bekerja di balik sistem kendaraan dan mesin pintar. Ekspansi ke robotika dan physical AI menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas pasar perangkat lunak di luar industri otomotif.
