Dampak Karhutla Parah, Area Feeding dan Camp Leakey Tanjung Puting Ditutup Sementara
Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, telah menimbulkan kerusakan parah pada salah satu titik krusial bagi kelangsungan hidup satwa dilindungi. Berdasarkan laporan terbaru, area feeding atau tempat pemberian makan orang utan di wilayah Camp Leakey mengalami kerusakan yang cukup memprihatinkan akibat amukan si jago merah. Sebagai langkah antisipasi dan pemulihan, pengelola terpaksa menutup area tersebut untuk kunjungan umum maupun aktivitas wisata.
Kerusakan pada fasilitas penunjang konservasi ini merupakan imbas langsung dari rangkaian musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belakangan ini kian mendekati zona inti kehidupan satwa endemik tersebut. Kondisi darurat ini tidak hanya mengancam keselamatan fisik satwa, tetapi juga merusak fasilitas habituasi yang selama ini menjadi pusat pemantauan serta penelitian primata berbulu jingga tersebut di kancah nasional maupun internasional.
Menanggapi situasi darurat ini, salah seorang perwakilan relawan sekaligus pelaku wisata di TNTP, Moncos, membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, area feeding Camp Leakey saat ini memang mengalami kondisi yang cukup memprihatinkan akibat kebakaran. Keterangan dari para pegiat lapangan menegaskan bahwa api telah memberikan dampak destruktif yang nyata terhadap ekosistem di dalam kawasan konservasi prioritas tinggi itu.
Pihak Balai Taman Nasional Tanjung Puting hingga kini belum dapat memastikan kapan fasilitas vital tersebut dapat dibuka kembali bagi para wisatawan maupun peneliti. Kebijakan penutupan mutlak diberlakukan sembari menunggu perkembangan situasi di lapangan serta evaluasi komprehensif terhadap kondisi lingkungan sekitar. Keputusan pembukaan kembali lokasi tersebut menunggu perkembangan kondisi kawasan dan keputusan lebih lanjut dari pihak Balai Taman Nasional Tanjung Puting.
Sebelum penutupan total pada titik-titik krusial ini diberlakukan, eskalasi kebakaran di sekitar kawasan penyangga sebenarnya telah diantisipasi melalui penutupan sejumlah pintu masuk wisata sejak akhir Oktober lalu. Upaya pemadaman juga telah melibatkan ratusan tenaga gabungan, mulai dari instansi kehutanan hingga puluhan relawan lokal yang berjibaku memadamkan titik api di tengah berbagai keterbatasan medan. Meskipun sejumlah wilayah sempat diguyur hujan yang meringankan beban tim pemadam, pemulihan ekologis terhadap area feeding yang terlanjur terbakar memerlukan waktu yang tidak sebentar.
Hingga kini, perhatian publik dan para pemerhati lingkungan tertuju pada upaya pemulihan habitat serta keselamatan populasi orang utan yang terdampak langsung oleh bencana ekologis ini. Para pemangku kepentingan berharap pemulihan kawasan dapat berjalan optimal agar rumah bagi primata langka tersebut bisa kembali aman dan fungsional seperti sediakala.
