Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Karhutla Ancam Habitat Orangutan di Kayong Utara dan Ketapang, 51 Ekor Diselamatkan

✍️ Rina Marlina 🕒 30 Oct 2026 👁️ 3x dibaca
Karhutla Kalbar merusak habitat orangutan. Sebanyak 51 orangutan diselamatkan, 30 di antaranya dari area perkebunan sawit
Karhutla Kalbar merusak habitat orangutan. Sebanyak 51 orangutan diselamatkan, 30 di antaranya dari area perkebunan sawit Foto: istimewa

rakyatkayong.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat tidak hanya mengancam kehidupan masyarakat, tetapi juga kelangsungan hidup satwa liar. Kerusakan habitat di Kabupaten Kayong Utara dan Ketapang membuat puluhan orangutan harus diselamatkan dari kawasan terdampak kebakaran.

Sebanyak 51 orangutan berhasil dievakuasi oleh tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dalam periode 6 Agustus hingga 10 Oktober 2026.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 individu ditemukan di dalam maupun sekitar kawasan perkebunan kelapa sawit. Kondisi ini menunjukkan besarnya tekanan terhadap habitat orangutan akibat kebakaran dan perubahan lingkungan.

Salah satu kawasan yang terdampak berada di area bernilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV) milik perusahaan perkebunan kelapa sawit PT KALE.

Berdasarkan analisis citra satelit pada periode 1 Agustus hingga 25 September 2026, lebih dari 90 persen kawasan HCV tersebut dilaporkan terbakar.

Kerusakan kawasan hutan membuat orangutan kehilangan sumber makanan dan tempat berlindung. Sejumlah satwa ditemukan dalam kondisi stres, kekurangan nutrisi, dehidrasi, hingga mengalami luka yang membutuhkan penanganan medis.

Lusi Ditemukan Bertahan di Kawasan Terbakar

Salah satu orangutan yang berhasil diselamatkan bernama Lusi. Orangutan betina berusia sekitar 4–6 tahun itu ditemukan bertahan di sebuah pohon di tengah kawasan hutan yang telah terbakar.

Saat ditemukan, Lusi mengalami malnutrisi, dehidrasi, serta sejumlah luka terbuka. Kondisinya membutuhkan penanganan dan perawatan lebih lanjut dari tim penyelamat.

Selain Lusi, tim gabungan juga mengevakuasi orangutan bernama Riri serta induk dan anak orangutan yang dikenal dengan nama Mama Rian dan Rian.

Ketiganya ditemukan di kawasan terdampak kebakaran dan memerlukan perhatian khusus.

Penyelamatan puluhan orangutan tersebut menjadi gambaran dampak karhutla terhadap kehidupan satwa liar. Ketika hutan rusak, orangutan tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga sumber pakan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

Restorasi Habitat Dinilai Penting

Kerusakan habitat juga meningkatkan risiko konflik antara manusia dan satwa liar. Orangutan yang kehilangan sumber makanan berpotensi bergerak ke kawasan perkebunan maupun permukiman untuk mencari tempat berlindung dan makanan.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menekankan pentingnya pemulihan kawasan HCV yang terdampak kebakaran.

Restorasi kawasan diperlukan untuk mengembalikan fungsi ekologis hutan sekaligus menjaga kelangsungan hidup satwa liar yang bergantung pada habitat tersebut.

Upaya penyelamatan juga masih menjadi perhatian karena sejumlah orangutan diduga masih bertahan di kawasan yang mengalami kebakaran.

Penanganan karhutla, penyelamatan satwa, dan pemulihan habitat perlu berjalan beriringan. Tanpa pemulihan kawasan hutan, orangutan yang berhasil dievakuasi maupun satwa yang masih bertahan di alam tetap menghadapi ancaman kehilangan tempat hidup.

RM
Rina MarlinaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update