Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Tumpukan Bangkai Ayam Hiasi Kantor PLN Palangka Raya, Kerugian Peternak Tembus Ratusan Juta Rupiah

✍️ Rina Marlina 🕒 31 Oct 2026 👁️ 5x dibaca
Pendemo membawa ribuan bangkai ayam di depan kantor PLN Palangka Raya.
Pendemo membawa ribuan bangkai ayam di depan kantor PLN Palangka Raya. Foto: istimewa

Kemarahan para peternak ayam di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mencapai puncaknya setelah ribuan unggas peliharaan mereka mati mendadak akibat gangguan suplai listrik yang tidak kunjung stabil. Sebagai bentuk protes keras terhadap pelayanan PT PLN (Persero), gelombang massa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap mendatangi Kantor PLN UP3 Palangka Raya di Jalan A. Yani. Tidak hanya melontarkan kecaman, aksi tersebut diwarnai dengan tindakan simbolis melemparkan ribuan bangkai ayam ke halaman hingga area depan kantor pelayanan listrik milik negara tersebut pada Jumat, 30 Oktober 2026. Aksi dramatis ini dilakukan lantaran kerugian material yang diderita para peternak akibat pemadaman listrik bergilir sudah berada di ambang batas toleransi.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun di lapangan, salah satu peternak bernama Satrio mengungkapkan bahwa insiden kematian massal ternak ayam ini dipicu oleh terhentinya aliran listrik secara mendadak dan berulang. Kondisi tersebut langsung melumpuhkan sistem sirkulasi udara di dalam kandang tertutup yang sangat bergantung pada pasokan daya listrik stabil. Akibatnya, ribuan ayam yang baru memasuki usia produktif kehilangan suplai oksigen yang memadai, menyebabkan mereka lemas dan mati dalam waktu singkat secara massal di dalam kandang wilayah Bukit Rawi.

Kerugian finansial yang harus ditanggung oleh para peternak tidak dapat dianggap sepele. Satrio menyebutkan bahwa dari total kerugian ekonomi yang melanda usahanya, nilai kerugian ditaksir menyentuh angka sekitar Rp200 juta. Padahal, para peternak sangat mengandalkan siklus panen periode ini untuk memulihkan modal usaha serta membiayai pengadaan infrastruktur cadangan di tengah situasi kelistrikan daerah yang kerap bermasalah.

Tekanan ekonomi ini semakin diperparah dengan kegagalan perangkat genset cadangan yang dioperasikan di lokasi peternakan. Ketika pemadaman dari jaringan utama terjadi, genset yang diandalkan untuk menyalakan kipas angin dan pengatur suhu kandang mendadak mengalami kerusakan akibat beban kerja yang terlalu berat secara terus-menerus. Satrio menjelaskan ihwal kegagalan sistem cadangan tersebut kepada awak media:

"Saya sebenarnya berharap periode ini bisa berhasil dulu, sehingga ada keuntungan untuk membeli genset baru. Tetapi ternyata pemadaman kembali terjadi dan genset kami jebol lagi. Akhirnya ayam-ayam yang menjadi korban."

Kekecewaan para peternak semakin memuncak karena kejadian serupa bukan kali pertama menimpa lini usaha mereka. Pada periode sebelumnya, masalah yang sama juga pernah merenggut nyawa sekitar 5.000 ekor ayam ternak akibat terputusnya aliran listrik secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan yang memadai dari pihak berwenang. Lonjakan jumlah kematian pada kejadian terbaru ini bahkan meningkat drastis hingga mencapai sekitar 7.000 ekor ayam berusia 16 hari, yang mana angka tersebut merupakan pukulan telak bagi keberlangsungan bisnis peternakan skala lokal di wilayah tersebut.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban visual atas kerugian yang mereka alami, massa aksi sengaja mengangkut bangkai-bangkai ayam tersebut langsung dari kandang menuju pusat kota. Satrio menegaskan bahwa kehadiran bangkai-bangkai unggas tersebut di halaman kantor PLN bukan sekadar bentuk pelampiasan emosi semata, melainkan manifestasi bukti fisik kerugian nyata yang harus disaksikan langsung oleh manajemen instansi penyedia listrik. Mengenai langkah pembuktian ini, Satrio menyatakan:

"Ini ayam-ayam yang mati kami bawa sebagai bukti. Sebelumnya kami juga pernah mengalami kejadian serupa, sekitar 5.000 ekor ayam mati. Sekarang kejadian lagi, kurang lebih 7.000 ekor ayam menjadi korban."

Hingga aksi unjuk rasa berakhir, para peternak menyoroti minimnya itikad baik dari pihak PLN dalam memberikan solusi konkret, terutama perihal skema dana kompensasi bagi para pelaku usaha di sektor peternakan yang menjadi korban langsung dari ketidakstabilan pasokan energi. Menurut mereka, janji pemulihan sistem yang sering disampaikan tidak sebanding dengan realitas di lapangan yang masih diwarnai pemadaman berulang. Kritik tajam terkait tidak adanya kejelasan ganti rugi tersebut ditegaskan kembali oleh Satrio melalui pernyataannya:

"Kami sudah berkali-kali datang menyampaikan persoalan ini. Tetapi pemadaman masih terus terjadi, sementara kompensasi bagi kami yang mengalami kerugian nyata belum ada. Ini bukan sekadar keluhan, tetapi kerugian yang benar-benar kami alami."

Situasi di Kantor PLN UP3 Palangka Raya sempat memanas seiring dengan orasi bergantian dari para pengunjuk rasa yang menuntut perwakilan manajemen turun menemui massa. Kendati demikian, hingga malam hari menjelang laporan ini diturunkan, pihak internal PLN belum memberikan keterangan resmi ataupun penjelasan terperinci di hadapan awak media mengenai penyebab utama di balik ketidakstabilan jaringan listrik yang terus mendera wilayah Kalimantan Tengah tersebut.

Para peternak berharap agar aksi radikal berupa pelemparan bangkai ayam ini membuka mata pemangku kebijakan untuk segera merestrukturisasi manajemen jaringan listrik secara transparan. Ke depannya, jaminan pasokan energi yang handal tanpa pemadaman mendadak menjadi harga mati agar dunia usaha di Palangka Raya tidak kembali menanggung kerugian kolosal akibat kelalaian infrastruktur pelayanan publik.

RM
Rina MarlinaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update