Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

277 Ribu Kasus ISPA Tercatat akibat Karhutla, Anak-anak Jadi Kelompok Rentan

✍️ Rina Marlina 🕒 19 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
ilustrasi kabut asap.
ilustrasi kabut asap. Foto: istimewa

rakyatkayong.com - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia semakin menjadi perhatian karena dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Hingga 12 Oktober 2026, Kementerian Kesehatan mencatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 63 kabupaten/kota yang tersebar di tujuh provinsi terdampak.

Dari total kasus tersebut, sebanyak 62.400 kasus atau sekitar 22,5 persen dialami anak berusia 0–5 tahun. Angka ini menjadi perhatian karena anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap paparan polusi udara.

Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra, menilai jumlah kasus yang tercatat belum tentu menggambarkan keseluruhan dampak kesehatan akibat kabut asap.

Menurutnya, masih ada kemungkinan kasus yang belum terdiagnosis atau belum masuk dalam pencatatan layanan kesehatan.

Hermawan menilai dampak karhutla perlu ditangani sebagai persoalan kedaruratan kesehatan masyarakat. Sebab, paparan asap dapat menjangkau wilayah luas dan mengancam kelompok rentan, khususnya anak-anak serta masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu.

Kayong Utara Berduka di Tengah Kabut Asap

Dampak kabut asap juga menjadi perhatian di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Seorang anak berusia enam tahun bernama Anya Shezan Banafsya meninggal dunia setelah menjalani perawatan di rumah sakit selama enam hari.

Berdasarkan laporan BBC News Indonesia, Anya meninggal pada 14 Oktober 2026. Surat kematian rumah sakit mencatat gagal napas akibat Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) yang disertai syok sepsis.

Ibunya, Nurul Khadafit, menceritakan bahwa Anya sempat mengalami demam. Anak tersebut kemudian didiagnosis mengalami infeksi paru-paru dan infeksi bakteri pada kaki.

Nurul juga mengungkapkan kekhawatirannya karena kondisi pernapasan putrinya tidak kunjung membaik.

Kabut asap di Kayong Utara dilaporkan telah berlangsung selama berbulan-bulan. Luas lahan yang terbakar di wilayah tersebut tercatat mencapai 2.244 hektare.

Meski demikian, hubungan langsung antara paparan asap karhutla dan meninggalnya Anya belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia. Karena itu, penyebab kematian tidak dapat disimpulkan hanya dari kondisi kabut asap yang terjadi di wilayah tersebut.

Kasus Anak di Samarinda Jadi Pengingat

Kisah serupa juga dilaporkan terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur. Cindy kehilangan putrinya, Yazlyn Syanindita atau Canin, yang meninggal pada usia 14 bulan setelah mengalami gangguan pernapasan.

Menurut laporan BBC News Indonesia, kondisi Canin memburuk ketika kabut asap menyelimuti permukiman keluarganya di Kecamatan Palaran. Cindy sempat membawa putrinya untuk mendapatkan penanganan medis, tetapi kondisi anak tersebut kembali memburuk hingga meninggal pada 15 Oktober 2026.

Cindy meminta pemerintah tidak meremehkan dampak kabut asap. Ia mengaku melihat sejumlah balita mengalami sesak napas ketika berada di ruang perawatan.

Namun, dokter spesialis anak yang menangani Canin, Ikhsan Ali, menyatakan belum dapat memastikan karhutla sebagai penyebab kematian. Gangguan pernapasan pada anak dapat dipicu berbagai kondisi, termasuk pneumonia.

Keterangan medis tersebut menegaskan pentingnya pemeriksaan menyeluruh untuk menentukan penyebab kematian, sekaligus perlunya perhatian serius terhadap risiko kesehatan akibat polusi udara.

PM2.5 Berisiko Mengganggu Pernapasan Anak

Dokter spesialis anak Fifi Sofiah menjelaskan, partikel polutan PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan berpotensi mencapai aliran darah.

Anak-anak lebih rentan terhadap paparan polusi karena sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang. Paparan asap juga dapat memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada anak yang memiliki penyakit paru-paru atau kondisi kesehatan tertentu.

Sementara itu, Hermawan Saputra mendorong penguatan layanan kesehatan untuk mengantisipasi peningkatan pasien akibat dampak karhutla. Langkah yang diperlukan antara lain kesiapan puskesmas, ketersediaan masker dan oksigen, serta sistem rujukan pasien yang memadai.

Ia mengingatkan bahwa risiko paparan asap tidak hanya terbatas pada masyarakat yang mendatangi fasilitas kesehatan dan tercatat mengalami ISPA. Jumlah warga yang terdampak berpotensi lebih besar.

Pemerintah Diminta Memperkuat Perlindungan Warga

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kondisi kabut asap memburuk. Masyarakat disarankan keluar hanya untuk keperluan mendesak guna membatasi paparan polusi udara.

Warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan perlu menggunakan masker yang sesuai dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan kesehatan.

Namun, penanganan dampak karhutla tidak cukup hanya mengandalkan imbauan kepada masyarakat. Pemerintah juga perlu memastikan fasilitas kesehatan siap menghadapi peningkatan pasien, menyediakan informasi kualitas udara yang mudah diakses, serta memberi perlindungan khusus kepada anak-anak dan kelompok rentan.

Upaya tersebut perlu berjalan bersamaan dengan penanganan kebakaran, mulai dari percepatan pemadaman hingga penguatan pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang.

Pembaruan data kesehatan secara berkala juga diperlukan untuk menggambarkan perkembangan kasus di setiap wilayah. Sementara itu, dugaan hubungan antara paparan asap dan kematian warga harus ditindaklanjuti secara medis dan disampaikan secara transparan.

Bagi masyarakat Kayong Utara yang telah berbulan-bulan menghadapi kabut asap, perlindungan kesehatan dan penanganan karhutla yang efektif menjadi kebutuhan mendesak agar risiko serupa tidak terus berulang.

RM
Rina MarlinaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update