BNPB Siagakan 51 Armada Udara Hadapi Karhutla, Kalimantan Jadi Perhatian
rakyatkayong.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tetap meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meskipun jumlah titik panas di sejumlah wilayah Indonesia mulai menurun. Sebanyak 51 unit pesawat dan helikopter disiagakan untuk mendukung pemadaman, patroli udara, serta operasi modifikasi cuaca.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan, mengatakan hujan yang mulai turun di sejumlah daerah belum sepenuhnya menghilangkan ancaman kebakaran, terutama di kawasan lahan gambut.
Menurutnya, api di permukaan lahan dapat terlihat padam setelah hujan. Namun, bara yang masih tersimpan di lapisan bawah tanah berpotensi memicu kebakaran kembali.
"Ada 6 provinsi yang menjadi prioritas," ujar Berton dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
51 armada udara disiapkan
Dari total 51 armada udara yang disiagakan, sebanyak 30 unit dialokasikan untuk operasi pemadaman melalui water bombing atau pengeboman air.
Sementara itu, 21 unit lainnya digunakan untuk patroli udara dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Saat ini, pelaksanaan OMC difokuskan di tiga provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan. Operasi tersebut dilakukan untuk membantu mengendalikan potensi kebakaran sekaligus mengantisipasi munculnya titik api baru.
Luas karhutla masih meningkat di sejumlah daerah
Data BNPB per 3 November 2026 menunjukkan kondisi karhutla di berbagai wilayah belum sepenuhnya terkendali. Beberapa daerah mencatat penurunan luas area terdampak, sementara wilayah lainnya justru mengalami peningkatan.
Di Papua Selatan, luas area terdampak tercatat 455 hektare atau turun 25 persen. Berbeda dengan Kalimantan Tengah yang mencapai 547 hektare atau meningkat 56 persen.
Kalimantan Timur mencatat luas area terdampak 60 hektare atau meningkat 80 persen.
Sementara itu, luas area terdampak di Nusa Tenggara Timur tercatat 14 hektare. Sulawesi Tenggara mencapai 91 hektare dan Sulawesi Tengah sebanyak 89 hektare, dengan penurunan sekitar 4 persen.
Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan penanganan karhutla masih membutuhkan pemantauan berkelanjutan, khususnya di wilayah yang mengalami peningkatan luas kebakaran.
Gambut menjadi tantangan penanganan
BNPB mengingatkan karakteristik lahan gambut menjadi salah satu kendala dalam penanganan kebakaran. Bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun bagian atas lahan telah diguyur hujan.
Jika tidak ditangani secara menyeluruh, bara tersebut berpotensi kembali memicu kebakaran ketika kondisi lingkungan mendukung.
Karena itu, pemerintah tetap mempertahankan kesiapan armada udara dan melanjutkan pemantauan di wilayah prioritas. Langkah ini diharapkan dapat mencegah meluasnya kebakaran serta menekan dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.
Bagi wilayah Kalimantan, kesiapsiagaan tersebut menjadi perhatian penting mengingat sejumlah daerah masih menghadapi ancaman karhutla, terutama di kawasan yang memiliki lahan gambut.
