Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Dampak Karhutla Ekstrem: Kabut Asap Lumpuhkan Operasional 3 Bandara di Kalimantan Tengah

✍️ Rina Marlina 🕒 20 Oct 2026 👁️ 3x dibaca
Bandara H Asan Sampit.
Bandara H Asan Sampit. Foto: istimewa

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang wilayah Kalimantan Tengah kian parah hingga memicu disrupsi fatal pada sektor transportasi udara. Sedikitnya tiga bandar udara utama di provinsi tersebut dilaporkan mengalami gangguan operasional serius akibat kepungan kabut asap tebal. Kondisi visibilitas atau jarak pandang horizontal di area landasan pacu tercatat merosot tajam hingga berada di kisaran ekstrem 50 sampai 100 meter saja. Fenomena ini membuat aktivitas penyeberangan udara dan jadwal penerbangan komersial dari maupun menuju wilayah Kalteng terhambat demi mengutamakan aspek keselamatan.

Berdasarkan pemantauan otoritas penerbangan sipil setempat, titik-titik transportasi udara yang terdampak paling parah meliputi Bandara H. Asan di Sampit (Kabupaten Kotawaringin Timur), Bandara Iskandar di Pangkalan Bun (Kabupaten Kotawaringin Barat), serta Bandara Haji Muhammad Sidik di Muara Teweh (Kabupaten Barito Utara). Penurunan jarak pandang yang begitu drastis ini melampaui batas toleransi minimum pengoperasian pesawat udara, baik untuk proses lepas landas (take-off) maupun pendaratan (landing).

Anjloknya visibilitas udara di bawah standar keamanan penerbangan memaksa pihak maskapai dan pengelola bandara untuk mengambil tindakan preventif darurat. Sejumlah jadwal penerbangan terpaksa mengalami penundaan (delay) berjam-jam, pengalihan pendaratan (divert), hingga pembatalan rute secara total (canceled) guna menghindari risiko kecelakaan di udara. 

Masing-masing fasilitas kebandarudaan mencatatkan penurunan skala visibilitas yang bervariasi namun sama-sama berada di level bahaya. Di Bandara H. Asan Sampit, ketebalan asap membuat jarak pandang berada di angka yang amat memprihatinkan, yaitu tersisa sekitar 50 meter saja. Situasi tak jauh berbeda juga terpantau di Bandara Iskandar Pangkalan Bun yang mana jarak pandangnya hanya berkisar di angka 80 meter. Sementara itu, di Bandara Haji Muhammad Sidik Muara Teweh, visibilitas tertahan pada kisaran 100 meter.

Kondisi cuaca buruk yang diselimuti jelutong dan partikel debu halus hasil pembakaran lahan gambut ini praktis melumpuhkan pandangan mata telanjang para pilot. Meski teknologi navigasi modern telah dipasang di beberapa bandara, batas ambang keamanan tetap membatasi aktivitas pergerakan pesawat jika visibilitas fisik di area runway berada jauh di bawah ambang batas ratusan meter.

Pihak otoritas penerbangan menekankan pentingnya kompromi atas jadwal perjalanan ketimbang memaksakan penerbangan di tengah kepungan asap. Dalam keterangan resminya terkait pembatalan operasional akibat gangguan jarak pandang yang parah, Andi Wiguna selaku Branch Communication Bandara Tjilik Riwut memberikan kutipan langsung terkait pertimbangan keselamatan:

"Pembatalan dilakukan karena visibilitas di Bandara Tjilik Riwut berada jauh di bawah standar aman penerbangan, yaitu di bawah 300 meter. Situasi ini sangat berisiko untuk pendaratan maupun lepas landas," ungkap Andi Wiguna.

Adanya kutipan langsung tersebut mempertegas bahwa seluruh pengelola bandar udara di kawasan Kalimantan Tengah menerapkan parameter keselamatan yang serupa. Apabila jarak pandang masih memburuk dan berada jauh di bawah batas normal 300 hingga 1.000 meter, operasional secara otomatis harus dihentikan sementara.

Dampak dari terganggunya jalur udara ini langsung dirasakan oleh ribuan calon penumpang. Penumpukan antrean terlihat di berbagai ruang tunggu terminal bandara. Sebagian besar penumpang terpaksa menunda rencana perjalanan bisnis, dinas, maupun keperluan keluarga akibat ketidakpastian jadwal terbang. Tak sedikit pula masyarakat yang memilih untuk menjadwalkan ulang tiket penerbangan mereka (reschedule) atau mengajukan proses pengembalian dana (refund).

Fenomena pekatnya asap karhutla ini dipicu oleh maraknya titik panas (hotspot) di berbagai wilayah perkebunan serta kawasan lahan gambut kering yang tersebar di Kalimantan Tengah. Musim kemarau yang disertai hembusan angin kencang membuat kobaran api meluas dengan cepat dan membawa material asap pekat ke kawasan pemukiman serta pusat-pusat transportasi publik.

Pihak pengelola bandara bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), AirNav Indonesia, serta jajaran maskapai penerbangan terus memantau pergerakan arah angin dan dinamika visibilitas secara real-time. Calon penumpang mengimbau agar terus memeriksa status penerbangan terkini sebelum menuju ke bandara guna mengantisipasi penundaan maupun pembatalan jadwal mendadak. Selama potensi kabut asap karhutla belum mereda, gangguan operasional penerbangan diprakirakan masih berpotensi terjadi sewaktu-waktu di wilayah Kalimantan Tengah.

RM
Rina MarlinaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update