Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Dampak Karhutla Kalteng: Operasional Bandara Tjilik Riwut Terganggu, 18 Penerbangan Gagal Mengudara

✍️ Rina Marlina 🕒 23 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya
Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya Foto: istimewa

PALANGKA RAYA — Kepungan kabut asap pekat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melumpuhkan aktivitas lalu lintas udara di Bandar Udara Tjilik Riwut, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kondisi cuaca buruk yang sangat ekstrem ini memicu pembatalan massal hingga sebanyak 18 jadwal penerbangan domestik yang seharusnya dijadwalkan beroperasi melayani rute dari dan menuju ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah tersebut pada Kamis (22/10).

Kerawanan keselamatan penerbangan muncul seiring dengan drastisnya penurunan tingkat visibilitas atau jarak pandang horizontal di sekitar kawasan landasan pacu. Berdasarkan pantauan meteorologi di lokasi bandara, jarak pandang tercatat terus bergerak tidak stabil dan kerap merosot tajam. Pada kondisi paling terpuruk, jarak pandang di area penerbangan bahkan sempat menyusut tajam hingga berada pada titik ekstrem, yakni hanya tersisa 150 meter. Angka ini jauh berada di bawah ambang batas minimum keselamatan penerbangan yang dipersyaratkan bagi maskapai untuk melakukan prosedur lepas landas (take-off) maupun pendaratan (landing) secara aman.

General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan, membenarkan bahwa hambatan cuaca akibat sebaran asap tebal karhutla telah menghentikan seluruh agenda penerbangan yang telah dijadwalkan pada hari tersebut. Ia menjelaskan dinamika perubahan jarak pandang di lapangan yang terus fluktuatif serta menyulitkan pergerakan armada udara.

"Saat ini tadi di angka 900, itu pun fluktuatif ya. Terkadang ada jedanya naik ke 1.000 kemudian turun lagi 900. Nah, terakhir tadi ini di 800 meter," ungkap Made merincikan kondisi jarak pandang yang tidak menentu di area bandara.

Meskipun aktivitas penerbangan domestik mengalami pembatalan secara menyeluruh akibat gangguan jarak pandang, pengelola bandara memastikan bahwa gedung terminal penerbangan tidak ditutup. Seluruh fasilitas layanan publik di dalam terminal Bandara Tjilik Riwut tetap difungsikan secara penuh guna memfasilitasi kebutuhan para calon penumpang yang telah telanjur tiba di bandara maupun yang hendak menyelesaikan urusan administrasi tiket mereka.

Langkah penyesuaian operasional juga diambil oleh pihak manajemen otoritas bandara untuk merespons dinamika cuaca yang belum menentu ini. Salah satu kebijakan taktis yang diberlakukan adalah menggeser alokasi jam operasional resmi bandara. Kebijakan ini dirancang agar ada celah bagi maskapai apabila kondisi ketebalan asap menipis dan jarak pandang mengalami perbaikan pada jam-jam tertentu. Jam operasional fasilitas penerbangan yang sebelumnya dibuka mulai pukul 05.00 hingga 17.30 WIB kini diubah menjadi pukul 09.00 hingga 21.00 WIB. Penggeseran rentang waktu operasional menuju malam hari ini dieksekusi dengan harapan dapat menangkap peluang membaiknya visibilitas udara setelah matahari terbenam.

Para calon penumpang yang terdampak oleh pembatalan penerbangan massal ini disarankan untuk terus aktif memperbarui informasi perjalanan mereka. Otoritas bandara meminta warga tidak membuat asumsi mandiri dan secara berkala memantau kanal komunikasi resmi yang disiarkan oleh pihak maskapai maupun manajemen bandara terkait skema rejadwal (reschedule), pengembalian dana (refund), atau alternatif rute keberangkatan.

"Selama kondisi udara belum membaik, calon penumpang diimbau terus memantau informasi resmi dari maskapai dan pihak bandara terkait perubahan jadwal maupun pengaturan ulang perjalanan," pungkasnya memberikan imbauan resmi bagi seluruh calon pengguna jasa transportasi udara.

Fenomena tumpukan kabut asap pekat di Palangka Raya merupakan dampak berantai dari bencana kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah titik wilayah Kalimantan Tengah. Partikel padat hasil pembakaran vegetasi yang melayang di udara membentang luas hingga menyelimuti ruang udara kawasan perkotaan dan fasilitas vital transportasi. Situasi ini mengorbankan ribuan calon penumpang yang gagal mengudara dan memicu gangguan konektivitas antarwilayah, mengingat Bandara Tjilik Riwut merupakan pintu gerbang udara utama di provinsi tersebut.

Kondisi terganggunya penerbangan ini turut memaksa masyarakat mencari jalan keluar alternatif untuk menembus keterisolasian jalur udara. Sebagian warga yang memiliki urgensi perjalanan terpaksa beralih menggunakan moda transportasi darat menuju kota tetangga, atau memanfaatkan jalur transportasi laut melalui pelabuhan terdekat guna mencapai kota tujuan mereka. Sementara itu, pihak pengelola bandara bersama pemangku kepentingan terkait terus bersiaga melakukan evaluasi rutin terhadap perkembangan kualitas udara serta tingkat visibilitas di sekitar kawasan landasan penerbangan.

Upaya pemulihan jadwal penerbangan kini sangat bergantung pada dinamika cuaca dan efektivitas pemadaman titik-titik karhutla di lapangan. Jika pemadaman titik api belum membuahkan hasil signifikan dan angin masih membawa timbunan asap pekat ke arah bandara, hambatan operasional lalu lintas udara diperkirakan masih berpotensi membayangi penerbangan di Kota Palangka Raya dalam beberapa hari ke depan. Pihak otoritas penerbangan menegaskan bahwa faktor keselamatan penerbangan serta keselamatan jiwa penumpang tetap menjadi prioritas tertinggi di atas pemenuhan jadwal keberangkatan.

RM
Rina MarlinaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update