Daud Yordan Punya 31 Kemenangan KO, Seberapa Keras Pukulannya?
rakyatkayong.com – Petinju profesional asal Kalimantan Barat, Daud Yordan, memiliki catatan 31 kemenangan knockout (KO) dari total 43 kemenangan sepanjang kariernya. Rekor tersebut menjadi salah satu gambaran daya serang petinju berjuluk Cino itu menjelang pertarungannya melawan Adore Torres di Pontianak, Sabtu (10/10/2026).
Dengan 31 kemenangan KO dari 43 kemenangan, sekitar 72,1 persen kemenangan Daud diraih melalui KO. Statistik itu menunjukkan bahwa ia kerap mengakhiri pertandingan sebelum seluruh ronde selesai.
Meski demikian, belum tersedia hasil pengukuran ilmiah yang secara khusus memastikan besarnya gaya pukulan Daud Yordan dalam satuan newton. Karena itu, angka pasti mengenai kekuatan pukulannya belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan catatan kemenangan.
Dalam olahraga tinju, kemampuan menghasilkan pukulan kuat tidak semata-mata ditentukan oleh otot lengan. Teknik, koordinasi tubuh, kecepatan, ketepatan, serta kemampuan membaca pergerakan lawan turut memengaruhi efektivitas serangan.
Kekuatan Pukulan Berasal dari Koordinasi Tubuh
Pukulan yang terlihat sederhana sebenarnya melibatkan rangkaian gerakan dari berbagai bagian tubuh. Tenaga dimulai dari kaki yang menekan lantai, kemudian diteruskan melalui putaran pinggul dan badan menuju bahu, lengan, hingga kepalan tangan.
Rangkaian tersebut dikenal sebagai kinetic chain atau rantai kinetik. Koordinasi gerak yang baik membantu petinju menyalurkan energi secara efektif ketika melancarkan serangan.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Sports and Active Living pada 2020 membandingkan teknik pukulan petinju elite dengan petinju junior terlatih. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan gaya dan kecepatan pukulan, termasuk pada teknik cross, hook, dan uppercut.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan pukulan merupakan hasil perpaduan teknik dan koordinasi tubuh, bukan hanya ukuran otot.
Empat Teknik Pukulan dalam Tinju
Dalam pertandingan, petinju menggunakan berbagai jenis pukulan sesuai jarak dan situasi. Empat teknik yang umum dikenal adalah jab, cross, hook, dan uppercut.
Jab merupakan pukulan lurus menggunakan tangan depan. Teknik ini biasanya digunakan untuk mengukur jarak, mengganggu ritme lawan, dan membuka peluang serangan berikutnya.
Cross adalah pukulan lurus menggunakan tangan belakang. Putaran pinggul dan badan membantu menyalurkan tenaga ke arah sasaran.
Hook merupakan pukulan melengkung dari samping yang dapat diarahkan ke kepala maupun badan. Teknik ini dapat menghasilkan gaya puncak tinggi, bergantung pada kemampuan atlet dan kondisi pengujian.
Dalam penelitian terhadap sepuluh petinju elite amatir yang diterbitkan di jurnal PLOS ONE pada 2023, gaya puncak rata-rata rear hook tercatat 2.624 newton. Sementara itu, lead hook mencapai rata-rata 2.524 newton, cross 2.425 newton, dan jab 1.645 newton.
Angka tersebut hanya menggambarkan hasil pengujian pada kelompok atlet yang diteliti. Hasilnya tidak dapat digunakan untuk menetapkan kekuatan pukulan Daud tanpa pengukuran langsung.
Adapun uppercut merupakan pukulan dari bawah ke atas yang biasanya digunakan ketika jarak antarpetinju cukup dekat dan terdapat celah pada pertahanan lawan.
Setiap teknik mempunyai fungsi berbeda. Efektivitasnya bergantung pada ketepatan waktu, posisi tubuh, jarak, serta kemampuan petinju membaca gerakan lawan.
Pengalaman Wartawan Merasakan Sentuhan Pukulan Daud
Gambaran personal mengenai daya serang Daud pernah dirasakan wartawan Pontianak Post, Danang Prasetyo, yang cukup dekat dengan petinju tersebut.
Dalam sebuah kesempatan, Danang bercanda dengan Daud untuk mengetahui seberapa kuat pukulannya.
“Bang, pukulan abang seberapa kuat sih?” tanya Danang kepada Daud.
Dengan santai, Daud menjawab, “Mau coba kah?”
Daud kemudian memperagakan gerakan secara perlahan. Ia tidak melayangkan pukulan sungguhan, melainkan menggerakkan tangan dengan lambat dan menempelkannya ke pipi Danang.
Meski hanya berupa sentuhan ringan, Danang mengaku sudah merasakan sakit. Pengalaman tersebut menjadi cerita tersendiri tentang kesan yang ditinggalkan Daud, bahkan ketika ia sedang bercanda.
Namun, pengalaman itu merupakan anekdot pribadi, bukan pengukuran ilmiah mengenai kekuatan pukulan. Besarnya gaya pukulan tetap membutuhkan pengujian dengan metode dan alat ukur yang sesuai.
Mengapa Pukulan Bisa Mengakhiri Pertandingan?
Kemenangan KO tidak selalu berarti petinju yang menang mempunyai pukulan paling keras. Dampak benturan dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk kecepatan, sudut serangan, posisi kepala, dan kondisi petinju ketika menerima pukulan.
Gerakan kepala akibat benturan juga menjadi perhatian dalam penelitian biomekanika olahraga. Percepatan dan rotasi kepala dapat berperan dalam mekanisme cedera otak, meskipun respons setiap orang berbeda.
Karena itu, pukulan yang terlihat tidak terlalu besar tetap dapat berbahaya apabila mengenai sasaran pada waktu dan sudut tertentu. Sebaliknya, pukulan kuat belum tentu menghasilkan KO.
Dalam catatan pertandingan profesional, KO dan technical knockout (TKO) juga memiliki perbedaan. KO terjadi ketika petinju tidak mampu melanjutkan pertandingan setelah menerima serangan sesuai ketentuan pertandingan. Sementara itu, TKO merupakan penghentian laga oleh wasit, dokter ring, atau pihak berwenang karena petinju dinilai tidak dapat melanjutkan dengan aman.
Jumlah kemenangan KO/TKO dapat menggambarkan kemampuan petinju mengakhiri pertandingan lebih awal, tetapi tidak secara langsung menunjukkan besarnya gaya setiap pukulan.
Rekam Jejak Daud di Pertarungan Dunia
Karier Daud Yordan memiliki sejumlah pertandingan yang memperlihatkan kemampuannya bangkit dan menyelesaikan duel.
Pada April 2018, Daud menghadapi petinju Rusia, Pavel Malikov, di Yekaterinburg. Setelah sempat terjatuh pada ronde keenam, Daud mampu membalikkan keadaan dan menang KO pada ronde kedelapan.
Pada 2012, Daud juga menghadapi Lorenzo Villanueva dalam perebutan gelar juara dunia IBO kelas bulu. Sempat dijatuhkan pada ronde pertama, Daud bangkit dan meraih kemenangan KO pada ronde kedua untuk merebut gelar tersebut.
Sementara itu, dalam pertarungan di Pontianak pada 2024, Daud menang KO/TKO atas Hernan Leandro Carrizo pada ronde kesembilan dalam perebutan gelar IBA World Super Lightweight.
Pertandingan-pertandingan tersebut menjadi bagian dari rekam jejak profesional Daud. Selain daya serang, kemenangan juga menuntut ketenangan, kemampuan membaca situasi, dan kecakapan menyesuaikan strategi.
Ujian Berikutnya Melawan Adore Torres
Daud Yordan dijadwalkan menghadapi Adore Torres dalam perebutan Sabuk ABF Diamond pada ajang Back to Champion 2026 di GOR Terpadu Pontianak, Sabtu (10/10/2026).
Daud mengaku telah menjalani persiapan selama berbulan-bulan, mempelajari karakteristik lawan, dan menyusun strategi. Torres, di sisi lain, menyebut Daud sebagai legenda sekaligus idolanya, tetapi tetap bertekad memberikan perlawanan serius.
Pertarungan tersebut menjadi kesempatan bagi Daud untuk menunjukkan kesiapan dan efektivitas strateginya di atas ring.
Catatan 31 kemenangan KO memang membuat daya serang Daud menarik untuk dibahas. Namun, hasil pertandingan tetap ditentukan oleh banyak aspek, termasuk teknik, kecepatan, ketepatan, pertahanan, dan strategi.
Pada akhirnya, seberapa efektif pukulan Daud ketika menghadapi Torres akan terlihat dari jalannya pertandingan, bukan semata-mata dari reputasi ataupun statistik kemenangan sebelumnya.
