Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

GAPKI Bahas Prospek Harga Sawit 2027, Geopolitik Global Jadi Sorotan

✍️ Rina Marlina 🕒 10 Oct 2026 👁️ 9x dibaca
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyampaikan bahwa IPOC 2026 menjadi forum strategis untuk membahas perubahan geopolitik dan perdagangan global, ketahanan pangan dan energi, serta prospek harga minyak sawit dan minyak nabati 2027.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyampaikan bahwa IPOC 2026 menjadi forum strategis untuk membahas perubahan geopolitik dan perdagangan global, ketahanan pangan dan energi, serta prospek harga minyak sawit dan minyak nabati 2027. Foto: istimewa

infokayong.com – Industri kelapa sawit Indonesia menghadapi tantangan perubahan geopolitik, proteksionisme, dan persaingan perdagangan internasional. Berbagai persoalan tersebut akan dibahas dalam konferensi tahunan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), The 22nd Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2027 Price Outlook, pada 11–13 November 2026 di Bali International Convention Center, The Westin Resort Nusa Dua, Bali.

Konferensi yang mengusung tema “Palm Oil in a Fragmented World: Securing Food, Energy, and Economic Resilience” itu akan mempertemukan pejabat pemerintah, analis pasar internasional, akademisi, dan pelaku industri untuk membahas prospek harga minyak sawit pada 2027, ketahanan pangan dan energi, serta strategi mempertahankan daya saing Indonesia.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengatakan penyelenggaraan IPOC tahun ini berlangsung ketika industri sawit perlu merespons perubahan peta ekonomi dan perdagangan global.

“Dunia saat ini semakin terfragmentasi, baik secara ekonomi maupun geopolitik. Melalui IPOC 2026, kami ingin membahas bagaimana industri sawit Indonesia dapat tetap tangguh, dan justru menjadi bagian dari solusi bagi ketahanan pangan dan energi, baik di dalam negeri maupun global,” ujar Eddy dalam konfrensi pers yang dihadiri Agricom, Jumat (9/10/2026).

Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki peran penting dalam pasokan minyak nabati global. Di dalam negeri, sawit menjadi bahan baku industri pangan dan minyak goreng serta mendukung program biodiesel. Sektor ini juga berkontribusi terhadap devisa ekspor dan penghidupan masyarakat, termasuk pekebun rakyat.

Namun, perubahan kebijakan perdagangan, persyaratan keberlanjutan, dan perkembangan transisi energi menuntut pelaku industri untuk menyesuaikan strategi bisnisnya.

Pejabat Pemerintah dan Analis Internasional Hadir

IPOC 2026 dijadwalkan menghadirkan sejumlah pejabat pemerintah sebagai pembicara, antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno, serta Wakil Menteri Keuangan Juda Agung.

Topik yang dibahas mencakup ketahanan ekonomi, pembangunan ketahanan pangan dan energi, hingga kesiapan Indonesia menghadapi European Union Deforestation Regulation (EUDR).

Konferensi juga akan mengulas kebijakan ekspor, dinamika perdagangan internasional, dan dampak persaingan geopolitik terhadap pasar minyak nabati. Sejumlah analis dan pelaku pasar dari berbagai negara dijadwalkan menyampaikan pandangan mengenai perubahan permintaan serta peluang pasar bagi minyak sawit Indonesia.

Rangkaian diskusi dibagi menjadi empat sesi utama, yakni Economic Resilience, Food Security and Energy Transition, Trade and Geopolitics, serta Economic Outlook and Market Trends.

Ketahanan Pangan dan Biodiesel Jadi Pembahasan

Salah satu agenda konferensi akan membahas hubungan industri sawit dengan ketahanan pangan dan energi. Pembahasan ini mencakup dukungan terhadap industri sawit berkelanjutan, kebijakan biofuel, serta peluang dan tantangan pengembangan biodiesel.

Selain itu, peserta akan mendiskusikan tuntutan pasar terhadap keberlanjutan, tata kelola, dan ketertelusuran produk. Persyaratan tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan pelaku industri dalam mempertahankan akses ke pasar internasional.

Pada sesi perdagangan dan geopolitik, pembahasan diarahkan pada perang dagang, kebijakan proteksionisme, perubahan permintaan minyak nabati, serta peluang ekspansi ke negara berkembang.

Berbagai perspektif tersebut diharapkan membantu pelaku industri memahami faktor eksternal yang dapat memengaruhi arus perdagangan dan daya saing minyak sawit Indonesia.

Proyeksi Harga Sawit 2027 Jadi Agenda Utama

Sesi penutup IPOC 2026 akan berfokus pada prospek ekonomi dan tren pasar minyak nabati. Sejumlah pembicara dijadwalkan mengulas permintaan dari pasar utama, dinamika harga, serta perkiraan pasokan dan kebutuhan minyak sawit pada tahun mendatang.

Analis minyak nabati Dorab Mistry dari Godrej International Ltd. dijadwalkan memaparkan prospek harga minyak nabati pada 2027. Sementara itu, Thomas Mielke dari ISTA Mielke GmbH (Oil World) akan membahas proyeksi pasokan, permintaan, dan harga minyak sawit serta minyak nabati lainnya.

Pembahasan tersebut penting bagi pelaku usaha dalam menyusun strategi penjualan, pengadaan bahan baku, produksi, perdagangan, dan investasi. Meski demikian, proyeksi yang disampaikan dalam konferensi nantinya tetap menjadi perkiraan pasar yang dipengaruhi berbagai faktor ekonomi dan kebijakan.

Ketua Panitia IPOC 2026, Suryanto Bun, mengatakan konferensi dirancang untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai kebijakan pemerintah, perkembangan geopolitik, perdagangan, dan prospek harga.

“Kami merancang IPOC 2026 agar peserta mendapatkan gambaran yang utuh, mulai dari arah kebijakan pemerintah, dinamika geopolitik dan perdagangan, hingga proyeksi harga 2027. Seluruh rangkaian ini diharapkan menjadi masukan penting bagi para pelaku industri sawit nasional dalam menyusun strategi ke depan,” ujar Suryanto.

Selain konferensi, acara tersebut akan menghadirkan pameran teknologi, produk, dan layanan pendukung industri sawit dari sektor hulu hingga hilir. Rangkaian kegiatan juga mencakup agenda jejaring bisnis bagi pelaku usaha, investor, pembuat kebijakan, dan mitra internasional.

Melalui penyelenggaraan ke-22 ini, GAPKI berharap IPOC menjadi ruang pertukaran informasi dan penguatan kerja sama industri untuk menghadapi perubahan ekonomi global serta menjaga daya saing sawit Indonesia pada 2027.

RM
Rina MarlinaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update