IHSG Berpeluang Menguat Pekan Ini, Investor Cermati Kebijakan The Fed
rakyatkayong.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan memiliki peluang untuk menguat pada perdagangan 5–9 Oktober 2026. Pergerakan pasar saham pekan ini akan banyak dipengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve serta perkembangan ekonomi dalam negeri.
Praktisi pasar modal Hans Kwee memperkirakan IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan menguat. Ia memperkirakan area support berada di level 5.839–5.973, sedangkan resistance berada pada 6.187–6.258.
Proyeksi tersebut disampaikan setelah IHSG mengakhiri perdagangan Jumat (2/10/2026) di level 6.036,89. Posisi itu meningkat dibandingkan penutupan sehari sebelumnya yang berada di angka 6.009,50.
Namun, level tersebut masih lebih rendah dibandingkan penutupan pada awal pekan sebelumnya yang mencapai 6.147,86.
Arah Kebijakan The Fed Jadi Perhatian
Hans Kwee mengatakan sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perkembangan yang beragam.
Aktivitas manufaktur AS masih berada dalam fase ekspansi. Namun, sejumlah indikator inflasi dan ketenagakerjaan menunjukkan adanya pelemahan.
Data indeks manufaktur ISM tercatat 54,5, sedikit turun dari 54,6 pada periode sebelumnya. Angka tersebut juga berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 55.
Sementara itu, inflasi inti berdasarkan personal consumption expenditures (PCE) pada Agustus tumbuh 0,2 persen, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebesar 0,3 persen.
Pasar tenaga kerja AS juga menunjukkan perlambatan. Data nonfarm payrolls mencatat penambahan 29 ribu pekerjaan, sedangkan angka Agustus direvisi menjadi 133 ribu pekerjaan.
“The Fed mungkin menahan suku bunga di Oktober, tetapi berpeluang menaikkannya pada Desember,” kata Hans, Minggu (4/10/2026).
Ekonomi Indonesia Jadi Faktor Pendukung
Dari dalam negeri, kondisi perekonomian Indonesia dinilai mulai menunjukkan sejumlah tanda pemulihan.
Hal tersebut antara lain terlihat dari peningkatan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur September serta surplus neraca perdagangan pada Agustus 2026.
Inflasi domestik juga masih dinilai terkendali meskipun mengalami kenaikan pada September. Selain itu, APBN 2027 telah disahkan dengan target defisit sebesar 2,4 persen terhadap produk domestik bruto.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat menopang pergerakan IHSG. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati perkembangan data ekonomi global dan kebijakan bank sentral Amerika Serikat.
Transaksi Saham Meningkat
Di sisi aktivitas perdagangan, Bursa Efek Indonesia mencatat peningkatan volume transaksi sepanjang periode 28 September hingga 2 Oktober 2026.
Rata-rata volume transaksi harian meningkat 72,51 persen menjadi 50,37 miliar saham dari sebelumnya 29,20 miliar saham.
Rata-rata nilai transaksi harian juga naik 5,40 persen menjadi Rp12,63 triliun. Namun, rata-rata frekuensi transaksi harian justru turun 7,54 persen menjadi 1,68 juta transaksi.
Pada periode yang sama, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp1,27 triliun.
Secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing telah membukukan jual bersih mencapai Rp82,55 triliun.
Pergerakan IHSG Pekan Sebelumnya
-
Senin, 28 September: 6.147,86
-
Selasa, 29 September: 6.121,70
-
Rabu, 30 September: 6.071,10
-
Kamis, 1 Oktober: 6.009,50
-
Jumat, 2 Oktober: 6.036,89
