Kebakaran Hutan Mengancam Satwa: 51 Orangutan di Ketapang dan Kayong Utara Dievakuasi
PONTIANAK — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerpa wilayah Kalimantan Barat tidak hanya memicu masalah polusi udara bagi pemukiman warga, namun juga mengancam kelangsungan hidup primata yang dilindungi. Berdasarkan data penyelamatan terbaru, sebanyak 51 individu orangutan berhasil dievakuasi dari kawasan terdampak kebakaran di wilayah Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Sebagian besar lokasi penyelamatan mencatat tingkat kerusakan vegetasi habitat yang sangat masif, di mana hingga 90 persen wilayah jelajah satwa tersebut telah hangus dilalap si jago merah.
Penyelamatan intensif ini merupakan hasil kolaborasi panjang yang melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Balai Gakkum LHK Wilayah Kalimantan, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalbar. Rangkaian aksi evakuasi dan pemantauan ketat tersebut telah berlangsung sejak awal Agustus hingga pertengahan Oktober.
Kondisi Kritis Satwa dan Temuan di Lapangan
Kerusakan hutan yang terjadi memaksa orangutan keluar dari habitat aslinya guna mencari sumber makanan dan tempat berlindung yang aman. Sayangnya, migrasi darurat ini membuat mereka berisiko tinggi memasuki kawasan perkebunan swasta hingga area pemukiman warga, yang rentan memicu konflik satwa dan manusia.
Dalam beberapa operasi penyelamatan terbaru, tim lapangan menemukan sejumlah orangutan dalam kondisi fisik yang memprihatinkan akibat dehidrasi, kelaparan, dan luka-luka. Di antara individu yang diselamatkan terdapat dua bayi orangutan bernama Lusi dan Riri yang ditemukan tanpa kehadiran induknya di kawasan High Conservation Value (HCV) PT KALE, Desa Laman Satong.
Selain itu, tim gabungan juga mengevakuasi pasangan induk dan anak, yakni Mama Rian dan Rian, dari perkebunan milik warga di Desa Riam Berasap. Area ditemukannya induk dan anak tersebut hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer dari batas perkebunan.
Saat diperiksa oleh tim medis hewan di lapangan, kondisi satwa-satwa tersebut dinilai sangat rentan. Lusi, misalnya, menderita luka terbuka yang diduga kuat disebabkan oleh serangan atau gigitan satwa lain seperti anjing saat berkeliaran mencari makan, di samping mengalami penurunan nutrisi drastis. Petugas langsung memberikan tindakan darurat berupa pembersihan luka dan penyuntikan antibiotik sebelum membawanya ke Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI di Kabupaten Ketapang untuk perawatan berlanjut.
Pernyataan Resmi Pihak Konservasi
Kondisi berat yang dialami primata-primata endemik Kalimantan ini ditegaskan langsung oleh pihak pengelola rehabilitasi satwa. Penjelasan mengenai tekanan yang dialami orangutan di tengah kepungan asap dan sisa pembakaran hutan disampaikan oleh Direktur Operasional YIARI, Karmele Llano Sanchez.
Karmele menyoroti bagaimana rusaknya vegetasi membuat orangutan kehilangan ruang hidup dasar mereka. Mengingat kondisi fisik hutan yang hangus, pergerakan satwa ini menjadi sangat terbatas serta dikelilingi ancaman dari sisa-sisa api yang masih membara.
“Dalam kondisi seperti ini, orangutan kehilangan tempat berlindung dan sumber pakan, sementara mereka masih harus bergerak di area yang berisiko karena panas dan sisa bara,” ungkap Karmele.
Lebih lanjut, dari serangkaian tindakan penanganan medis terhadap induk dan anak orangutan yang ditemukan di pemukiman warga, pihak medis menemukan bahwa defisit nutrisi menjadi masalah utama akibat ketiadaan pakan alami di hutan yang terbakar.
“Hasil pemeriksaan medis menunjukkan keduanya mengalami kondisi tubuh yang sangat kurus,” ujar Karmele.
Evaluasi Kesiapsiagaan Korporasi dan Ancaman Ekologis
Selain melakukan penyelamatan fisik terhadap satwa, pihak YIARI juga memberikan catatan kritis terhadap efektivitas penanganan karhutla di area konsesi atau perkebunan. Minimnya mitigasi dini serta buruknya pola komunikasi dari pihak perusahaan saat titik api mulai membesar dinilai turut memperparah kehancuran kawasan konservasi HCV.
Tekanan ekologis akibat kebakaran hutan tak hanya merenggut ruang hidup, tetapi juga mengancam jiwa satwa lindung secara langsung. Dalam penelusuran tim gabungan pada awal Oktober lalu, petugas bahkan menemukan bangkai satwa yang telah membusuk di area terdampak. Hingga kini, sampel terkait temuan tersebut masih menjalani proses uji forensik oleh otoritas berwenang guna mengidentifikasi spesies serta penyebab pasti kematiannya.
Secara regional, fenomena karhutla yang melanda wilayah pulau Kalimantan dan Sumatra ini diperparah oleh kondisi iklim kering El Niño. Dampaknya tidak hanya mengancam ekosistem keanekaragaman hayati seperti orangutan, melainkan memicu krisis asap lintas batas (transboundary haze) yang mengganggu sektor pendidikan, penerbangan, serta kesehatan pernapasan masyarakat di Indonesia hingga negara tetangga.
Saat ini, tim gabungan dari BKSDA Kalbar dan mitra konservasi masih terus menyisir area-area rawan kebakaran, khususnya di lanskap HCV PT KALE dan sekitarnya. Pemantauan intensif di lapangan diprioritaskan untuk memastikan tidak ada lagi individu orangutan yang terjebak di tengah sisa-sisa kebakaran hutan serta memberikan penanganan medis secepat mungkin bagi satwa yang membutuhkan.
