Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Langit Palangka Raya Menguning Akibat Kabut Asap Pekat, Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya

✍️ Rina Marlina 🕒 24 Oct 2026 👁️ 5x dibaca
Suasana di Jalan Karet, Palangka Raya, Kalimantan Tengah memperlihatkan langit tampak menguning dengan kabut asap tebal yang membatasi kejernihan udara.
Suasana di Jalan Karet, Palangka Raya, Kalimantan Tengah memperlihatkan langit tampak menguning dengan kabut asap tebal yang membatasi kejernihan udara. Foto: istimewa

Ancaman Udara Berbahaya dan Fenomena Langit Menguning

Kondisi lingkungan di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, semakin memprihatinkan akibat kepungan kabut asap tebal yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Fenomena mengkhawatirkan terlihat jelas saat siang hari, di mana langit ibu kota provinsi tersebut berubah warna menjadi kuning pekat. Perubahan warna atmosfer ini menjadi tanda visual terkuat bahwa partikel polutan melayang dalam konsentrasi yang sangat tinggi di udara.

Berdasarkan parameter Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), tingkat pencemaran udara di Palangka Raya telah menembus zona berbahaya. Kondisi ini membuat paparan udara segar praktis tidak ada lagi, digantikan oleh aroma sangit kayu terbakar yang menusuk hidung serta jarak pandang yang merosot tajam. Situasi ini langsung menempatkan seluruh masyarakat kota dalam risiko kesehatan yang amat tinggi, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

Penetapan status udara berbahaya ini menuntut kewaspadaan ekstra dari seluruh pihak. Pejabat publik, aparat keamanan, dan tim penanggulangan bencana terus berpacu dengan waktu untuk memadamkan titik-titik api yang masih membara di sekitar wilayah pemukiman maupun kawasan hutan gambut yang sulit dijangkau.

Dampak Langsung terhadap Aktivitas Warga dan Kesehatan

Kepungan kabut asap pekat tidak hanya mengubah warna pemandangan kota, tetapi juga melumpuhkan denyut kehidupan sehari-hari masyarakat Palangka Raya. Jalan-jalan protokol yang biasanya ramai kini tampak lengang pada jam-jam tertentu. Jarak pandang yang terbatas, kadang kurang dari beberapa ratus meter, memaksa para pengguna jalan mengendarai kendaraan dengan sangat perlahan dan menyalakan lampu utama demi menghindari kecelakaan lalu lintas.

Di sektor pendidikan dan mobilitas publik, pemerintah daerah beserta pihak terkait mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Banyak sekolah yang mengalihkan kegiatan belajar-mengajar secara dalam jaringan (daring) atau memundurkan jam masuk kelas demi meminimalkan paparan polusi udara pada siswa.

Dampak pada sektor kesehatan mulai menunjukkan lonjakan yang signifikan. Pusat-pusat layanan kesehatan, seperti puskesmas dan rumah sakit daerah, mencatat peningkatan jumlah pasien yang mengeluhkan penderitaan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Gejala seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, hingga pusing menjadi keluhan harian yang mendominasi kunjungan medis warga setempat. Penggunaan masker medis maupun masker N95 kini kembali menjadi kewajiban mutlak bagi siapa saja yang terpaksa keluar rumah.

Penyebab Utama: Karhutla di Lahan Gambut yang Sulit Dipadamkan

Penyebab utama dari timbulnya kabut asap pekat yang menyelimuti Palangka Raya adalah kebakaran lahan yang meluas di berbagai titik di Kalimantan Tengah, khususnya pada kawasan lahan gambut. Lahan gambut memiliki karakteristik unik sekaligus berbahaya saat musim kemarau: api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga merayap di bawah tanah hingga kedalaman beberapa meter.

Kondisi pemadaman pada lahan gambut membutuhkan sumber daya dan air yang sangat besar. Meskipun api di permukaan tampak sudah padam, bara di dalam tanah kerap tetap menyala dan terus menghasilkan asap tebal tanpa henti. Karakteristik inilah yang membuat kabut asap menumpuk di atmosfer secara masif dan terbawa angin menuju kawasan pusat kota Palangka Raya, menciptakan kabut tebal beracun yang bertahan hingga berhari-hari.

Kurangnya intensitas curah hujan selama musim kemarau panjang memicu vegetasi menjadi sangat kering dan mudah terbakar, baik akibat faktor kelalaian manusia, pembukaan lahan secara ilegal, maupun pemicu alami. Kombinasi antara cuaca ekstrem dan aktivitas pembakaran lahan membuat upaya penanggulangan menjadi tantangan yang sangat berat bagi tim Satgas Karhutla di lapangan.

Upaya Penanggulangan dan Penanganan Darurat

Guna menanggulangi krisis udara beracun ini, tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta para relawan pemadam kebakaran swadaya terus dikerahkan ke lokasi-lokasi titik api (hotspot). Pemadaman dilakukan melalui dua jalur utama: darat dan udara.

Melalui jalur darat, petugas berjibaku menembus hutan gambut yang rapat sambil memboyong peralatan pompa air berat. Mereka melakukan teknik pembasahan intensif (booming) untuk memastikan api di dalam tanah benar-benar padam. Sementara dari udara, helikopter water bombing dikerahkan untuk menjatuhkan ribuan liter air pada titik-titik api yang sulit dijangkau oleh personel darat. Selain itu, opsi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau pembuatan hujan buatan juga terus diupayakan bersama lembaga terkait guna memicu curah hujan di kawasan-kawasan kritis.

Pemerintah daerah juga mendirikan posko kesiapsiagaan bencana, membagikan masker gratis kepada masyarakat, serta menyediakan ruang-ruang evakuasi berpendingin udara dan dilengkapi penyaring udara (air purifier) bagi warga yang membutuhkan penanganan darurat akibat paparan asap.

Imbauan Keselamatan dan Kesiapsiagaan Masyarakat

Di tengah situasi krisis kualitas udara ini, masyarakat Kota Palangka Raya diminta untuk terus memantau pembaruan informasi mengenai indeks kualitas udara (ISPU) secara berkala melalui saluran resmi pemerintah. Kesadaran mandiri untuk menjaga kesehatan menjadi benteng pertahanan terdepan saat ini.

Beberapa langkah krusial yang dianjurkan antara lain:

  • Membatasi seluruh kegiatan fisik dan olahraga di luar ruangan.

  • Menutup pintu, jendela, dan celah rumah agar kabut asap tidak masuk ke dalam ruangan.

  • Menggunakan masker standar yang mampu menyaring partikel mikroskopis (seperti N95/KN95) apabila terpaksa beraktivitas di luar.

  • Meningkatkan konsumsi air putih serta makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh.

  • Segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala keluhan pernapasan yang memberat.

Harapan terbesar warga Palangka Raya saat ini berada pada hujan deras yang diharapkan segera turun untuk memadamkan sisa-sisa titik api gambut, mengikis polusi udara, serta mengembalikan warna biru pada langit ibu kota Kalimantan Tengah tersebut.

RM
Rina MarlinaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update