Lonjakan Kasus ISPA di Palangka Raya: 12.748 Warga Terjangkit, Pemkot Siagakan 47 Rumah Oksigen
PALANGKA RAYA — Situasi darurat lingkungan akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah memicu krisis kesehatan yang cukup serius. Berdasarkan data resmi yang dihimpun hingga 25 Oktober 2026, jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah Kota Palangka Raya telah menembus angka 12.748 kasus.
Lonjakan masif angka penderita gangguan pernapasan ini memaksa Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya untuk mengambil langkah-langkah mitigasi cepat guna mencegah perburukan kondisi kesehatan masyarakat secara luas. Sebagai bentuk respons tanggap darurat, pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan terkait kini menyiagakan sebanyak 47 titik fasilitas pelayanan kesehatan darurat yang dikenal sebagai rumah oksigen. Keberadaan fasilitas penunjang pernapasan ini disebar secara strategis di berbagai titik wilayah untuk memastikan akses pertolongan pertama bagi warga yang mengalami sesak napas akibat paparan polusi udara pekat.
Akumulasi Karhutla Picu Penurunan Kualitas Udara Drastis
Peningkatan drastis jumlah pasien ISPA ini tidak terjadi begitu saja, melainkan berkorelasi langsung dengan masifnya insiden kebakaran lahan yang melanda kawasan tersebut dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan data kumulatif yang dirilis oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, tercatat ada sebanyak 963 kejadian karhutla selama periode 1 Juni hingga 25 Oktober 2026.
Dampak dari ratusan insiden kebakaran hutan dan lahan gambut tersebut tidak hanya menimbulkan kabut asap tebal yang membatasi jarak pandang, tetapi juga menghanguskan total lahan seluas 1.459,38 hektare. Partikel debu halus, sisa pembakaran organik, serta gas polutan yang masif mengudara setiap harinya telah menurunkan kualitas udara di kota berjuluk "Kota Cantik" ini ke level yang membahayakan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan kronis.
Peran Strategis 47 Rumah Oksigen dalam Menyelamatkan Warga
Menyadari ancaman nyata yang dihadapi oleh masyarakat, penyediaan 47 rumah oksigen menjadi benteng pertahanan krusial dalam memitigasi risiko fatal akibat kekurangan pasokan oksigen bersih. Fasilitas ini didirikan tidak hanya di lingkungan fasilitas kesehatan formal seperti puskesmas, melainkan juga merangkul kerja sama dengan berbagai yayasan, lembaga kemasyarakatan, serta organisasi sosial setempat.
Langkah kolaboratif ini dinilai sangat efektif untuk memperluas jangkauan layanan medis darurat tanpa harus membebani instalasi gawat darurat di rumah sakit umum yang mulai mengalami lonjakan kunjungan pasien. Di posko-posko rumah oksigen tersebut, warga yang mengalami gejala sesak napas ringan hingga sedang akibat terpapar udara tercemar dapat langsung memperoleh bantuan tabung oksigen secara cuma-cuma. Selain itu, tenaga kesehatan bersama relawan siaga juga dikerahkan untuk memantau kondisi fisik warga, membagikan masker pelindung standar medis, serta mendistribusikan vitamin penunjang imunitas tubuh.
Komitmen Pemerintah dan Imbauan Kewaspadaan Publik
Pemerintah Kota Palangka Raya terus menegaskan bahwa keselamatan serta perlindungan kesehatan segenap warga merupakan prioritas utama yang harus dikedepankan di tengah situasi bencana musiman ini. Upaya pemadaman titik api di lapangan terus digencarkan secara paralel dengan penguatan sektor pelayanan kesehatan masyarakat agar penanganan bencana dapat berjalan secara komprehensif dari hulu ke hilir.
Kendati fasilitas darurat telah disiagakan secara maksimal, pihak berwenang tetap mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan pribadi tatkala beraktivitas di luar ruangan. Warga disarankan untuk selalu mengenakan masker penutup hidung dan mulut dengan spesifikasi yang memadai, membatasi durasi kegiatan luar rumah yang tidak mendesak, serta segera mendatangi posko rumah oksigen terdekat apabila mulai merasakan gejala awal gangguan pernapasan seperti batuk persisten, iritasi tenggorokan, atau sesak dada. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, relawan, dan kedisiplinan warga, dampak buruk dari bencana asap ini diharapkan dapat ditekan seminimal mungkin hingga kondisi lingkungan kembali pulih normal.
