Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Petani Milenial Sambas Panen 9,6 Ton Gabah per Hektare, Ini Kiat Mengelola Sawah

✍️ Rina Marlina 🕒 08 Oct 2026 👁️ 5x dibaca
Petani milenial Sambas, Heri, berbagi tips mengelola sawah setelah melaporkan panen 9,6 ton gabah per hektare. Ketekunan menjadi kunci.
Petani milenial Sambas, Heri, berbagi tips mengelola sawah setelah melaporkan panen 9,6 ton gabah per hektare. Ketekunan menjadi kunci. Foto: istimewa

rakyatkayong.com – Petani milenial asal Desa Serunai, Kecamatan Salatiga, Kabupaten Sambas, Heri, membagikan pengalaman dalam mengelola lahan persawahan hingga mampu menghasilkan hampir 10 ton gabah dalam sekali panen.

Petani kelahiran 1989 tersebut mencatat hasil panen mencapai 9,6 ton gabah dari lahan seluas satu hektare. Menurut Heri, capaian itu diperoleh melalui proses panjang yang membutuhkan ketekunan, pemilihan benih, serta penerapan teknologi pertanian.

“Kalau hasil itu bisa diperoleh, tentunya ada proses panjang, ketekunan, serta penerapan teknologi pertanian yang lebih modern di lahan sawah,” kata Heri.

Pengalaman Heri menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas pertanian tidak hanya bergantung pada luas lahan. Pengelolaan tanaman secara konsisten, pemilihan sarana produksi, serta kemauan untuk terus belajar juga menjadi bagian penting dalam budidaya padi.

Berikut sejumlah pendekatan yang dapat menjadi referensi bagi petani dalam meningkatkan pengelolaan sawah.

1. Memulai dari Benih Berkualitas

Benih menjadi salah satu faktor penting dalam budidaya padi. Heri sendiri menyebut pemilihan benih sebagai bagian dari upayanya memperoleh hasil panen tinggi, meski varietas yang digunakan belum dijelaskan secara rinci.

Benih bermutu dapat membantu menghasilkan pertumbuhan tanaman yang lebih seragam dan memiliki daya tumbuh lebih baik. Dengan demikian, kebutuhan untuk melakukan penyulaman tanaman juga dapat ditekan.

Namun, pemilihan varietas tetap perlu mempertimbangkan kondisi lahan, lingkungan tumbuh, serta rekomendasi dari penyuluh pertanian.

2. Teknologi Pertanian Tidak Selalu Berupa Mesin

Pemanfaatan teknologi di sawah tidak harus selalu menggunakan mesin berukuran besar. Salah satu teknologi sederhana yang dapat digunakan petani adalah bagan warna daun atau leaf color chart.

Alat tersebut membantu petani memperkirakan kebutuhan nitrogen tanaman berdasarkan tingkat kehijauan daun. Dengan pengamatan tersebut, pemberian pupuk dapat dilakukan lebih terukur.

Waktu pemberian pupuk juga perlu diperhatikan. Pemberian nitrogen yang terlalu banyak pada tahap awal pertumbuhan dapat menyebabkan pemborosan, sementara kebutuhan tanaman pada tahap berikutnya justru bisa tidak terpenuhi.

3. Mengatur Jarak Tanam dengan Jajar Legowo

Salah satu pola tanam yang dikenal dalam budidaya padi adalah sistem jajar legowo.

Pola tersebut mengatur jarak antarbarisan tanaman dengan menyediakan lorong tertentu. Tanaman yang berada di bagian tepi diharapkan memperoleh akses cahaya lebih baik.

Selain membantu pengaturan populasi tanaman, pola tersebut juga dapat memudahkan petani melakukan pemeliharaan, pemupukan, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Meski demikian, belum ada keterangan bahwa Heri menggunakan sistem jajar legowo di lahannya.

4. Mengatur Pengairan agar Lebih Efisien

Sawah juga tidak selalu harus digenangi secara terus-menerus. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan International Rice Research Institute (IRRI) adalah alternate wetting and drying (AWD) atau pengairan berselang.

Metode ini mengatur periode basah dan kering secara terukur dengan tujuan menghemat penggunaan air tanpa mengorbankan produktivitas apabila diterapkan dengan tepat.

Penerapannya membutuhkan pengelolaan tata air yang baik. Karena itu, kondisi tanah, irigasi, serta karakteristik lahan perlu diperhatikan sebelum metode tersebut diterapkan.

5. Jangan Langsung Menganggap Semua Serangga sebagai Hama

Keberadaan serangga di sawah tidak selalu berarti tanaman sedang diserang hama. Sejumlah serangga parasitoid dan laba-laba justru dapat berperan sebagai musuh alami organisme pengganggu tanaman.

Penggunaan insektisida secara tidak tepat, terutama pada tahap awal pertumbuhan, berpotensi ikut membunuh organisme yang sebenarnya membantu mengendalikan hama.

Karena itu, petani perlu mengidentifikasi jenis hama dan tingkat serangannya terlebih dahulu sebelum menentukan tindakan pengendalian.

6. Catat Biaya Produksi dan Hasil Panen

Hasil panen yang tinggi menjadi salah satu indikator keberhasilan, tetapi belum cukup untuk menggambarkan keuntungan usaha tani.

Petani dapat membuat catatan sederhana mengenai tanggal tanam, varietas yang digunakan, pembelian pupuk, biaya tenaga kerja, penggunaan alat, hasil panen, hingga harga jual gabah.

Catatan tersebut dapat digunakan untuk membandingkan hasil dan biaya produksi antarmusim.

Dengan cara itu, petani bisa mengetahui apakah peningkatan produksi benar-benar diikuti peningkatan keuntungan atau justru membutuhkan biaya yang jauh lebih besar.

Gabah 9,6 Ton Bukan Berarti 9,6 Ton Beras

Angka hasil panen Heri juga perlu dipahami sebagai gabah, bukan beras siap konsumsi.

Status gabah, apakah gabah kering panen (GKP) atau gabah kering giling (GKG), juga penting diperjelas ketika hasil tersebut hendak dibandingkan dengan produktivitas sawah lainnya.

7. Konsistensi Menjadi Bagian Penting

Bagi Heri, bertani bukan pekerjaan yang hasilnya dapat diperoleh secara instan. Perubahan kondisi di lapangan membuat petani harus terus belajar dan menyesuaikan cara pengelolaan tanaman.

“Tapi apa yang diraih saat ini, menjadi titik awal untuk terus maksimal dalam sektor pertanian, kemudian menggarap lahan dengan terukur,” ujarnya.

Ia mengakui tantangan di sektor pertanian terus berubah. Karena itu, pengalaman antarpetani dinilai penting untuk saling dibagikan.

“Kalau ditanya tantangan, tentunya banyak sekali, apalagi di zaman sekarang di tengah tantangan sektor pertanian yang terus berubah,” katanya.

Heri juga membuka kesempatan bagi petani lain untuk bertukar pengalaman mengenai pengelolaan tanaman.

“Kalau ada kawan petani ingin berbagi pengalaman, saya terbuka,” kata Heri.

RM
Rina MarlinaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update