Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Potensi Silika Kalbar Terbuka, Hilirisasi Jadi Peluang Pengembangan Industri Daerah

✍️ Rina Marlina 🕒 12 Oct 2026 👁️ 5x dibaca
ilustrasi.
ilustrasi. Foto: istimewa

rakyatkayong.com – Kalimantan Barat memiliki potensi sumber daya silika yang dapat dikembangkan untuk mendukung industri bernilai tambah, mulai dari kaca dan keramik hingga material elektronik. Namun, pengembangan potensi tersebut masih membutuhkan pemetaan sumber daya, kesiapan teknologi, dan dukungan infrastruktur.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai penguatan industri pengolahan silika menjadi langkah penting agar Indonesia tidak hanya mengandalkan penjualan bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk turunan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2025 yang dipaparkan Eneng Maryani dari Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Keramik dan Mineral Nonlogam, sumber daya silika Indonesia mencapai 26,4 miliar ton yang tersebar di 611 lokasi.

Kalimantan Tengah tercatat memiliki porsi terbesar, yakni 74,52 persen. Adapun wilayah lain yang memiliki sumber daya silika meliputi Kepulauan Riau, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, Banten, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Riau.

Meski Kalbar masuk dalam daftar provinsi yang memiliki potensi silika, data tersebut belum merinci jumlah sumber daya maupun lokasi spesifik di wilayah ini. Oleh sebab itu, pemetaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui kualitas bahan baku dan peluang pengembangan industri yang sesuai.

Hilirisasi Silika Berpotensi Tingkatkan Nilai Ekonomi

Perekayasa Ahli Utama BRIN, Nadirah, menjelaskan bahwa silika memiliki rantai pengolahan yang panjang. Mineral ini dapat diproses menjadi silikon metal, electronic-grade polysilicon, kristal tunggal, wafer semikonduktor, hingga komponen elektronik seperti chip.

Setiap tahapan pengolahan membutuhkan teknologi, tingkat kemurnian bahan, tenaga ahli, dan investasi yang berbeda. Semakin tinggi tahapan pengolahan, semakin besar pula tuntutan terhadap penguasaan teknologi dan standar kualitas.

“Solusi hilirisasi baru dapat dirancang dengan tepat apabila kita mengetahui secara presisi mata rantai mana yang hilang, lemah, atau masih sangat bergantung pada teknologi dan pasokan dari luar negeri,” kata Nadirah dalam diskusi kelompok terarah mengenai pemetaan rantai nilai dan arah investasi strategis industri silika di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (28/9).

Ia juga mengingatkan risiko hollow middle trap, yakni kondisi ketika industri hulu mampu menyediakan bahan baku, tetapi industri pengolahan antara belum berkembang secara kuat.

Kondisi tersebut dapat menghambat pengembangan industri nasional menuju produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Bagi Kalimantan Barat, pengembangan industri silika perlu mempertimbangkan ketersediaan bahan baku sekaligus kemampuan pengolahan, infrastruktur pendukung, kebutuhan pasar, dan kepastian investasi.

Produk Turunan Silika Masih Bergantung pada Impor

Eneng Maryani mengungkapkan bahwa ketergantungan impor produk turunan silika bernilai tinggi di Indonesia masih berada pada kisaran 70–100 persen berdasarkan pemaparan dalam forum tersebut.

Sementara itu, kebutuhan silika dengan tingkat kemurnian di atas 99 persen disebut berada pada rentang 120.000 hingga 3,3 juta ton per tahun untuk kebutuhan yang teridentifikasi.

Pengolahan silika di dalam negeri saat ini masih banyak mengandalkan pemurnian fisik dan belum berkembang luas ke proses pemisahan kimia.

Untuk memperkuat hilirisasi, Eneng menilai diperlukan peningkatan skala teknologi melalui fasilitas percontohan atau pilot plant, investasi peralatan, pembangunan infrastruktur, serta pengembangan kompetensi tenaga kerja.

Kolaborasi penelitian dengan industri dan dukungan kebijakan juga dibutuhkan agar teknologi yang dikembangkan dapat diterapkan dalam kegiatan produksi.

Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, turut menekankan pentingnya hubungan antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan pelaku industri.

Menurutnya, penelitian perlu diselaraskan dengan kebutuhan pasar agar hasil inovasi dapat diterapkan dalam proses produksi dan menghasilkan produk yang memenuhi standar industri.

Infrastruktur dan Kepastian Pasar Perlu Diperhitungkan

Peluang pengembangan industri silika di Kalimantan Barat juga perlu dikaji berdasarkan ketersediaan energi dan air, akses transportasi, biaya logistik, kebutuhan investasi, serta kedekatan dengan industri pengguna.

Industri kaca dan keramik dapat menjadi salah satu segmen yang dikaji sesuai karakteristik bahan baku yang tersedia. Sementara itu, industri elektronik dan semikonduktor membutuhkan tingkat kemurnian serta pengendalian kualitas yang lebih ketat.

Pengalaman PT Timah Investasi Mineral yang dipaparkan Yadvi Arma menunjukkan bahwa keterbatasan sarana angkut dan kapasitas dermaga dapat menjadi kendala dalam pengiriman silika dalam volume besar.

Perusahaan tersebut telah bekerja sama memasok silika kepada industri lokal bahan dasar kaca di Kabupaten Belitung. Pengalaman ini menunjukkan pentingnya menyesuaikan spesifikasi bahan baku dengan kebutuhan industri pengguna.

Aspek serupa perlu diperhitungkan dalam perencanaan pengembangan silika di Kalimantan Barat. Potensi sumber daya saja belum cukup untuk menjamin kelayakan industri tanpa dukungan infrastruktur, efisiensi biaya pengangkutan, dan kepastian pembeli.

Nadirah menegaskan bahwa pengembangan ekosistem industri silika membutuhkan keterlibatan pemerintah, peneliti, industri hulu dan hilir, pengelola kawasan industri, serta akademisi.

Pemetaan rantai nilai diperlukan untuk menentukan prioritas penelitian, teknologi yang perlu dikembangkan, dan arah investasi strategis.

Dengan pemetaan yang lebih terperinci, Kalimantan Barat dapat mengidentifikasi peluang pengolahan silika sesuai karakteristik sumber daya dan kebutuhan industri. Langkah ini diharapkan membuka peluang peningkatan nilai tambah mineral, memperkuat industri lokal, serta menciptakan kesempatan kerja di daerah.

RM
Rina MarlinaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update