Jumat, 06 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Ekonomi Kalbar Melambat Dua Kuartal, Dampak Karhutla Jadi Perhatian

✍️ Rina Marlina 🕒 06 Nov 2026 👁️ 2x dibaca
karhutla kalbar
karhutla kalbar Foto: istimewa

rakyatkayong.com – Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat (Kalbar) mengalami perlambatan selama dua kuartal berturut-turut pada 2026. Kondisi tersebut terjadi di tengah tekanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang turut memengaruhi aktivitas ekonomi di sejumlah wilayah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar, ekonomi provinsi ini tumbuh 5,24 persen secara tahunan pada triwulan III-2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan II-2026 sebesar 5,61 persen dan triwulan I-2026 yang mencapai 6,14 persen.

Perlambatan juga terlihat pada subsektor kehutanan. Pada triwulan III-2026, subsektor tersebut mengalami kontraksi sebesar 2,52 persen, berbalik dari pertumbuhan positif 6,02 persen pada triwulan sebelumnya.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, mengatakan karhutla ikut memengaruhi aktivitas ekonomi di sejumlah provinsi yang terdampak.

"[Karhutla] juga berdampak pada menurunnya beberapa aktivitas ekonomi, khususnya pada provinsi yang terdampak," kata Edy dalam konferensi pers rilis BPS di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Menurut Edy, penurunan kinerja subsektor kehutanan menjadi salah satu gambaran tekanan terhadap aktivitas ekonomi di wilayah yang mengalami kebakaran. Meski demikian, dampak karhutla terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dinilai relatif terbatas, sementara pengaruhnya lebih terlihat pada sejumlah provinsi terdampak.

Pertumbuhan Kalbar Masih Positif

Kepala BPS Kalbar, Muh Saichudin, menyampaikan pertumbuhan ekonomi Kalbar pada triwulan III-2026 mencapai 5,24 persen secara tahunan atau year-on-year (y-on-y).

Jika dibandingkan dengan triwulan II-2026, pertumbuhan tersebut turun 0,37 poin persentase. Sementara dibandingkan triwulan I-2026, penurunannya mencapai 0,90 poin persentase.

Walaupun mengalami perlambatan, perekonomian Kalbar masih tumbuh positif. Secara kumulatif hingga triwulan III-2026, pertumbuhannya mencapai 5,66 persen. Adapun secara kuartalan, ekonomi Kalbar tumbuh 0,90 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalbar berdasarkan harga berlaku tercatat Rp91.868,60 miliar. Sementara berdasarkan harga konstan 2010 mencapai Rp45.251,03 miliar.

Kehutanan Tertekan, Sektor Lain Masih Tumbuh

Dari sisi lapangan usaha, pertambangan dan penggalian mencatat pertumbuhan tertinggi secara kumulatif hingga triwulan III-2026, yakni 16,15 persen.

Sementara itu, pengadaan listrik dan gas menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tahunan tertinggi sebesar 16,91 persen.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah tumbuh 16,03 persen secara tahunan pada triwulan III-2026. Secara kumulatif, komponen tersebut meningkat 20,59 persen.

Adapun investasi yang tercermin melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mencatat pertumbuhan 10,34 persen secara kuartalan.

Meski sejumlah sektor menunjukkan pertumbuhan, struktur ekonomi Kalbar masih ditopang sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi 20,89 persen terhadap PDRB.

Sektor industri pengolahan menyumbang 16,60 persen, perdagangan besar dan eceran serta reparasi kendaraan bermotor 14,39 persen, sedangkan konstruksi berkontribusi 12,75 persen.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 48,39 persen. Berikutnya adalah PMTB sebesar 38,17 persen dan ekspor barang serta jasa sebesar 19,93 persen.

Besarnya peran sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menunjukkan pentingnya menjaga keberlanjutan kegiatan ekonomi berbasis sumber daya alam. Gangguan terhadap aktivitas kehutanan akibat kebakaran berpotensi menambah tekanan bagi wilayah dan masyarakat yang bergantung pada sektor tersebut.

Aktivitas Lembaga Sosial Ikut Meningkat

Di tengah tekanan ekonomi akibat bencana, BPS juga mencatat peningkatan pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT).

Komponen tersebut tumbuh 5,02 persen secara tahunan pada triwulan III-2026. Edy menjelaskan, peningkatan itu antara lain berkaitan dengan aktivitas lembaga sosial dan kemanusiaan dalam menyalurkan bantuan serta merespons bencana alam.

Sementara itu, ekonomi Indonesia secara keseluruhan tumbuh 5,47 persen secara tahunan pada triwulan III-2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan triwulan II-2026 yang mencapai 5,29 persen.

Perbedaan pertumbuhan nasional dan regional memperlihatkan bahwa kondisi ekonomi setiap wilayah tidak selalu bergerak dengan pola yang sama. Di Kalbar, perlambatan pertumbuhan dan kontraksi subsektor kehutanan menjadi perhatian, terutama karena sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih memiliki peran besar dalam struktur ekonomi daerah.

Dengan demikian, penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan perlindungan lingkungan dan kesehatan masyarakat, tetapi juga perlu memperhatikan keberlanjutan kegiatan ekonomi serta mata pencaharian warga di wilayah terdampak.

RM
Rina MarlinaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update